Selasa, 24 Februari 2015

Pembuatan dan pemasangan interior pada kapal

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses mendesain interior pada kapal bangunan baru cukup mirip dengan proses mendesain interior baru dalam suatu bangunan lama. Meskipun ada kesamaan dalam prosesnya, desain bangunan baru melibatkan beberapa pertimbangan yang kompleks dan bukan merupakan bagian dari proses perencanaan interior. Beberapa pertimbangan tersebut adalah, elemen bangunan, bentuk interior, penempatan sistem kontrol lingkungan, di mana membutuhkan keahlian yang tidak berkaitan dengan keahlian tipikal perencanaan ruang interior.

Perencanaan ruang interior yang sempurna hanya bisa di dapatkan dengan perhatian terhadap detail, baik dalam pengembangan program maupun proses perencanaan fisik itu sendiri. Karena tugas mendesain suatu bangunan menjadi semakin kompleks.

Dalam pembangunan suatu interior pada kapal harus di tinjau dan di sesuaikan menurut kondisi dari kapal tersebut yaitu berdasarkan : 
1. Kapal menurut bahannya
2. Kapal menurut alat penggeraknya
3. Kapal berdasarkan mesin penggerak utamanya
4. Kapal berdasarkan fungsi dan kegunaannya

Kapal Penumpang (passenger ship) adalah kapal yang khusus mengangkut penumpang. Kapal penumpang ada yang besar dan ada yang kecil. Kapal penumpang kecil kebanyakan digunakan untuk pesiar antar pulau yang tak begitu jauh menyusuri pantai atau sungai yang menghubungkan antar kota sebagai komunikasi transportasi atau sebagai angkutan para pekerja offshore.
Kapal penumpang besar biasanya dipakai untuk pelayaran antar pulau yang jauh atau antar benua untuk tourist dan lain-lain dan di lengkapi fasilitas mewah. Selain itu kapal penumpang dilengkapi dengan alat keselamatan pelayaran yang lebih lengkap, dibandingkan dengan kapal-kapal lainnya misalnya sekoci penolong, baju penolong dan perlengkapan keselamatan lainnya. Semua kapal penumpang kecuali kapal penumpang cepat biasanya selalu membawa sedikit muatan barang.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, penulis akan mengajukan rumusan masalah sebagai berikut yaitu:
1. Bagaimana pembangunan kapal di PT. Kim Seah Shipyard Indonesia?
2. Apakah yang di maksut dengan kapal flex 38 buatan PT. Kim Seah Shipyard Indonesia?
3. Apakah yang di maksut dengan perencanaan ruang interior kapal?
4. Bagaimana tahap - tahap pembangunan ruang interior kapal pada kapal flex 38?

C. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui bagaimana pembangunan kapal di PT. Kim Seah Shipyard Indonesia.
2. Mengetahui apa yang di maksut dengan kapal flex 38 buatan PT. Kim Seah Shipyard Indonesia.
3. Mengetahui apa yang di maksut dengan perencanaan ruang interior kapal.
4. Mengetahui tahap – tahap pembangunan ruang interior pada kapal flex 38.

BAB II
LANDASAN TEORI

- Pembangunan Interior Kapal

Di dalam pembangunan interior kapal haruslah memperhatikan penentuan pembagian ruangan – ruangan utama di dalam kapal, di karenakan hal tersebut sangatlah mempengaruhi lancarnya pelaksanaan dan penyelesaian dari aktifitas suatu pelayaran kapal tersebut. Penentuan pembagian ruangan tersebut antara lain adalah :

1. Ruangan muatan, 
2. Ruangan mesin, 
3. Ruang akomodasi anak buah kapal
4. Ruangan navigasi, 
5. Ruangan lain lain

Tujuan penentuan pembagian ruangan tersebut adalah di karenakan ruangan yang berada di dalam kapal terbatas/ kecil dan terkadang dengan bentuk yang tidak tentu seperti melengkung dan lain-lain, dalam situasi tertentu ruangan yang sempit atau terbatas tersebut dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan sebagai tempat tinggal, tempat bekerja dan istirahat dari kru atau penumpang kapal selama dalam pelayaran yang terkadang tidak hanya membutuhkan waktu yang sebentar bahkan bisa berbulan bulan tinggal di dalam kapal. Oleh karena itu  sebuah interior suatu ruangan di kapal harus lah dapat memenuhi tuntutan tersebut diatas.

Dalam pembangunan suatu interior kapal itu terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain :
1. Jumlah dan tipe dari perlengkapan dan peralatan galangan pendukung pembuatan interior serta kapasitasnya.
2. Jumlah ukuran serta tipe kapal yang akan dibangun.
3. Bagian kelistrikan dan bagian interior kapal.
4. Kemampuan tenaga kerja bagian interior kapal

BAB III
METODE PENULISAN

Metode penulisan yang di pakai untuk menyusun makalah ini adalah sebagai berikut:
Pengumpulan Data
a. Tinjauan langsung (survey atau observation langsung), menitik-beratkan peninjauan langsung apa yang ada di lapangan, yaitu dengan melihat langsung apa yang dikerjakan para pekerja, misalnya seperti pembangunan interior kapal, pengetesan hasil kualitas las dan lain-lain
b. Wawancara, dilakukan dengan mengadakan diskusi atau tanya jawab dengan pihak galangan atau pihak lain yang berkompeten terhadap masalah tersebut.
c. Metode kepustakaan (literature), pengumpulan data yang dibutuhkan dengan cara membaca literature baik di dalam materi perkuliahan, perpustakaan maupun dalam wacana di internet ataupun berbagai macam  media lainnya yang memiliki hubungan dengan judul makalah yang dibuat penulis.
2. Pemilihan Data yang Sudah Didapat, yaitu dengan memilah-milih data mana yang relevan dengan makalah yang akan ditulis
3. Penulisan Makalah
a. Pengetikan, yaitu penulisan makalah dengan memakai Microsoft Word 2010 yang telah tersedia pada laptop / komputer.
b. Pengeditan, yaitu memperbaiki makalah sebelum dicetak misalnya : kesalahan kata, kesalahan penulisan gelar, kesalahan penulisan daftar pustaka dan sebagainya
4. Mencetak Makalah

BAB IV
PEMBAHASAN

Pembangunan Kapal di PT. Kim Seah Shipyard Indonesia

PT. Kim Seah Shipyard Indonesia yang terletak di Jalan Kawasan Industri sekupang no.61 Kelurahan Tg. Riau no 61. Batam ini mempunyai department – department yang membantu dalam proses produksi pembangunan sebuah kapal baik dari segi kualitas produk maupun dalam proses pembuatannya. PT. Kim Seah Shipyard Indonesia rata-rata memproduksi kapal berjenis crew boat, dengan tipe flex 38, flex 38 S, flex 38 SL. Kapal crew boat yang di produksi oleh PT. Kim Seah Shipyard Indonesia berbahan dasar alumunium dengan spesifikasi material 5083 grade H 321 / H 116. Kapal flex yang di produksi berjenis allumunium vessel atau high speed craft, yaitu kapal yang mengandalkan kecepatan (speed) di dalam pelayarannya berfungsi untuk mengangkut para karyawan atau pekerja off shore (lepas pantai).
Bahan material yang di gunakan untuk pembangunan kapal flex 38 berbahan alumunium dan di datangkan dari Penguin Singapore (Penguin Shipyard International).
Galangan kapal yang berada di Singapore spesialis pada pembuatan kapal yang berbahan dasar Alumunium, dan galangan yang berada di Batam, Indonesia fokus kepada keduanya yaitu pembuatan kapal alumunium dan pembuatan kapal yang berbahan steel atau baja.
Bahan material alumunium di gunakan untuk pembangunan kapal crew boat ini karena lebih ringan dan kapal crew boat termasuk kapal cepat jadi bisa menghasilkan paduan yang memberikan nilai lebih. Alumunium juga bersifat lebih tahan korosi yang tentunya bisa mengurangi biaya perawatan.
PT. Kim Seah Shipyard Indonesia bertindak sebagai kontraktor dan pada proses pembuatan kapal terdapat 10 subcont yang membantu proses pembuatan kapal baru sesuai dengan tugasnya masing-masing yaitu : PT. Vista Maritim Indonesia, PT. Alusteel Engineering Indonesia, PT. Wing Yong, PT. Zheng Guang Fa, PT. Sriwijaya Teknindo, PT. Fortuner CSJ, PT. LBS, PT. Maritime Makmur Sejati, PT. Sim Metal, PT. Pai Lian.
Semua subcont tersebut memiliki tugas masing-masing dalam pembangunan kapal flex 38 yang kira - kira dalam proses pembuatannya memakan waktu kurang lebih sekitar 6 bulan.

Tentang Kapal Flex 38

Kapal Flex 38 adalah kapal berjenis Flex crew boat berbahan dasar alumunium buatan PT. Kim Seah Shipyard Indonesia berfungsi untuk kapal penyedia jasa angkutan para pekerja offshore dengan kapasitas angkut 90 orang pekerja offshore dengan spesifikasi material 5083 grade H 321 atau H 116 (marine grade). Bahan material alumunium di gunakan untuk pembangunan kapal crew boat ini karena lebih ringan dan kapal crew boat termasuk kapal cepat jadi bisa menghasilkan paduan yang memberikan nilai lebih dalam hal kecepatan. Alumunium juga bersifat lebih tahan korosi yang tentunya bisa mengurangi biaya perawatan.

Perencanaan Ruang Interior Kapal

Dalam merencanakan interior kapal pada dasarnya sama dengan merencanakan interior pada bangunan–bangunan darat lainya. Hal yang membedakan adalah lingkungan, dimana kapal beroperasi di daerah yang korosif, adanya gaya-gaya luar yang bekerja seperti ombak yang besar, badai dan gangguan dari dari lingkungan lainnya. 
Selain itu salah satu  yang membedakan adalah bentuk ruangan yang khas dengan bentuk kapal, ruangan yang terbatas/ kecil dan terkadang dengan bentuk yang tidak tentu seperti melengkung dan lain sebagainya. Sedangkan dalam situasi tertentu ruangan yang sempit atau terbatas dituntut dapat memenuhi kebutuhan sebagai tempat tinggal, tempat bekerja dan istirahat dari krew atau penumpang kapal selama dalam pelayaran yang terkadang tidak hanya membutuhkan waktu yang sebentar bahkan bisa berbulan bulan tinggal di dalam kapal. Oleh karena itu  sebuah interior suatu ruangan di kapal harus lah dapat memenuhi tuntutan tersebut diatas. 
Pada kapal-kapal dagang seperti general kargo, tanker, kontainer desain interior hampir sama, dapat dikatakan tidak ada perbedaan karena pada kapal tersebut yang paling utama adalah ruang muat yang semaksimal mungkin. Manusia yang tinggal hanyalah krew kapal yang mengoperasikan kapal dengan tujuan perdagangan yang tujuan akhir adalah keuntungan yang sebesar besarnya. Lain halnya pada kapal kapal penumpang terlebih pada kapal pesiar, desain interior sangatlah diutamakan, hal tersebut berkaitan dengan tujuan utamanya adalah kepuasan pelanggan / penumpang. Sehingga bentuk ruangan dan interior di dalamnya nya pun bisa menciptakan kenyamanan untuk para penumpangnya sehingga dapat kembali menggunakan kapal tersebut.

            Bentuk dasar ruangan yang di kapal secara umum mengikuti lengkungan/ bentuk dari kapal tersebut. Jumlah dan macam ruangan untuk kapal dagang / merchant ships biasanya disesuaikan kebutuhan seperti :

Pembagian ruangan – ruangan utama ( main – spaces ) yakni : 
-       Ruangan Muatan.
-       Ruangan mesin.
-       Ruangan akomodasi anak buah kapal dan penumpang.

1. Mess room ( ruang makan )
2. Sleeping room ( ruang tidur anak buah kapal )
3. Washing accommodation ( ruang untuk mencuci )
4. Hospital / clinic ( klinik kesehatan di kapal )
        5. Galley / provision store ( dapur dan tempat penyimpanan bahan makanan )

-       Ruangan Navigasi.
-       Ruangan lain lain :
Menentukan lokasi dari ruangan untuk Emergency Source of Electrical Power.
Menentukan lokasi dari CO2 room.
Menentukan ruangan – ruangan berikut : Lamp store, paint store, rope store, electrical store, boatswain store etc.

1. Tahap Pembangunan Interior Pada Kapal Flex 38

Dalam membangun interior dari pembuatan sebuah kapal flex 38, memiliki beberapa tahapan-tahapan yang prosesnya harus detail dan butuh kerjasama antar pihak bagian yang mengerjakan dari masing-masing subcont karena tujuan dari pembuatan kapal crew boat adalah untuk akomodasi penumpang menjadikan bagian interior adalah bagian yang terpenting dalam pembuatan kapal crew boat ini. Tahapan-tahapan tersebut adalah :

A. Perencanaan bentuk dasar ruangan di kapal termasuk dengan rencana umum (general arrangement).

Bentuk dasar ruangan yang dikapal secara umum mengikuti lengkungan / bentuk dari kapal tersebut. Jumlah dan macam ruangan untuk kapal dagang/ merchant ships biasanya disesuaikan kebutuhan seperti :
Pembagian ruangan – ruangan utama ( main – spaces ) yakni :
-       Ruangan Muatan.
-       Ruangan mesin.
-       Ruangan akomodasi anak buah kapal dan penumpang.
Mess room ( ruang makan )
Sleeping room ( ruang tidur anak buah kapal )
Washing accommodation ( ruang untuk mencuci )
Hospital / clinic ( klinik kesehatan di kapal )
Galley / provision store ( dapur dan tempat penyimpanan bahan makanan )
-       Ruang navigasi.
-       Ruangan lain lain :
Menentukan lokasi dari ruangan untuk Emergency Source of Electrical Power.
Menentukan lokasi dari CO2 room.
Menentukan ruangan – ruangan berikut : Lamp store, paint store, rope store, electrical store, boatswain store etc.
            Ruangan akomodasi anak buah kapal (ABK) merupakan ruangan dimana dalam ruangan tempat anak buah kapal istirahat, mengerjakan tugas dan aktivitas lainya. sehigga dalam menentukan letak, jumlah, jenis, kapasitas, dan ukuran  dari ruangan – ruangan berikut ( termasuk perlengkapan didalamnya ) berdasarkan tingkatan dan jumlah anak buah kapal dan penumpang dengan memperhatikan super structure dan deck – house yang tersedia.
-       Sleeping room (ruang tidur)
-       Mess room ( dining room ) / ruang makan / ruang santai.
-       Washing accommodation.(ruang cuci)
-       Hospital (klinik / rumah sakit di kapal)
-       Galley dan provision store. (dapur dan ruang penyimpan makanan)
-       Acces (jalan), ladder (tangga) dan stairs dalam hubungannya dengan means of escape (jalan menyelamatkan diri saat terjadi kecelakaan / kebakaran ) sesuai konvensi SOLAS 1960 /1974.

a. Ruangan Muatan : ( cargo spaces ).

Menentukan kebutuhan volume ruang muatan berdasarkan jenis, jumlah dan specific volume dari muatan yang akan diangkut.
Menentukan panjang ruang muatan dan letak ruangan muatan kapal.
Menentukan jumlah dan letak dari transverse watertight bulkhead berdasarkan perhitungan flodable length ( watertight subdivision ) dengan memperhitungkan rules klasifikasi mengenai hal ini, termasuk ketentuan mengenai collision bulkhead ( Forepeak bulkhead ) dan after peak bulkhead ( stuffing box bulkhead ).
Menentukan tinggi double bottom berdasarkan peraturan klasifikasi.
Menentukan frame – spacing berdasarkan peraturan klasifikasi.
Menentukan jumlah dan tinggi geladak dengan memperhatikan jenis dari muatan yang diangkut kapal.
Menentukan jumlah dan ukuran serta letak dari hatchways ( lubang palkah ).
Menentukan jumlah, kapasitas dan letak dari ventilator trunk.

b. Ruangan Mesin : ( Machinery spaces ).

Menentukan letak ruang mesin ( ditengah kapal, dibelakang kapal atau diantara tengah dan belakang kapal ) dengan mempertimbangkan jenis muatan, volume ruang muatan, ballast dan trim dan lain – lain.
Menentukan kebutuhan volume ruangan mesin dan panjang ruang mesin dengan memperhatikan ukuran mesin induk dan layout kamar mesin.
Menentukan ukuran mesin induk berdasarkan jenis, jumlah tenaga dan putaran mesin.
Menentukan secara garis besar lay – out dari kamar mesin ( letak mesin induk, mesin – mesin bantu dan lain – lain peralatan utama ).
Menentukan tinggi pondasi mesin dengan memperhatikan tinggi double bottom dan tinggi propeller shaft ( sumbu baling – baling ).
Menentukan letak dan ukuran dari engine opening engine room skylight dan funnel ( cerobong ), dengan memperhatikan juga means of scape.
Untuk lay – out dari kamar mesin perlu juga di perhatikan settling dan service tanks

c. Ruangan akomodasi anak buah kapal dan penumpang :

Menentukan letak, jumlah, jenis, kapasitas, dan ukuran dari ruangan – ruangan berikut di bawah ( termasuk perlengkapan didalamnya ) berdasarkan tingkatan dan jumlah anak buah kapal dan penumpang dengan memperhatikan super structure dan deck – house yang tersedia.
Sleeping room.
Mess room ( dining room ).
Washing accommodation.
Hospital.
Galley dan provision store.
Akses ( jalan ), ladder dan stairs dalam hubungannya dengan means of escape sesuai konvensi SOLAS 1960 / 1974.

d. Ruangan navigasi :

menentukan letak dan luas dari ruangan navigasi yang meliputi :
Wheel house.
Chart room.
Radio room.
Dalam hubungan dengan navigasi perlu diperhatikan letak, jenis dan jumlah dari lampu navigasi yang dibutuhkan.

e. Tangki – tangki :

Menentukan letak dan volume dari tangki – tangki ( yang merupakan bagian dari badan kapal ) berikut ini :
Tangki ballast.
Tangki air tawar, yang didasarkan atas jumlah anak buah kapal dan penumpang dan radius pelayaran.
Tangki bahan bakar, yang didasarkan atas fuel consumption dan besarnya tenaga mesin serta radius pelayaran kapal. Pada umumnya dibedakan antara jenis bahan bakar H.V.F ( Heavy Viscousity Fuel ) dan diesel oil.
Tangki minyak pelumas yang didasarkan atas kebutuhan minyak pelumas.
Tangki muatan cair ( deep – tanks untuk palm oil, latex, glyserine dan lain–lain ).

f. Ruangan – ruangan lain :

Steering gear compartment, menentukan letak dan ukuran ruangan jenis, kapasitas dan ukuran steering gear yang dipakai yang didasarkan atas momen torsi dari kemudi ( yang tergantung dari luas kemudi displacement dan kecepatan kapal ). Juga dengan memperhatikan persyaratan SOLAS convention 1969 / 1974. Untuk ruangan akomodasi perlu diperhatikan jenis, jumlah dan ukuran dari side scuttle ( jendela kapal = side lights ) dan ukuran dari pintu.
Menentukan lokasi dari ruangan untuk Emergency Source of Electrical Power.
Menentukan lokasi dari CO2 room.
Menentukan ruangan – ruangan berikut : Lamp store, paint store, rope store, electrical store, boatswain store etc.

B. Memasang perlindungan panas (insulation) pada ruangan interior kapal

Dalam sebuah kapal terdapat beberapa komponen yang merupakan sumber panas, seperti panas yang dikeluarkan akibat pembakaran motor penggerak utama, panas dari auxiliary engine, peralatan memasak dan permesinan bantu lainya. Panas yang dihasilkan dapat diteruskan kebagian lain melalui pancaran (radiasi) maupun rambatan (konduksi). Akibat perpindahan panas tersebut, maka ruang yang seharusnya tidak boleh terkena panas menjadi merasakan efek dari panas yang di timbulkan dari ruangan lain. Ruangan yang seharusnya nyaman tidak lagi, ruangan yang seharusnya bebas panas sama sekali karena pertimbangan keamanan menjadi tidak aman lagi dan banyak lagi akibat proses perambatan kalor tersebut.
Panas dapat merambat kebagian lain karena adanya media penyalur panas atau material yang memiliki konduktifitas termal yang bagus seperti logam yang banyak digunakan sebagai dinding dari kapal sendiri, udara disekitar sumber panas, yang meski memiliki angka konduktifitas yang kecil, tetap saja dapat menjadi media perambatan panas dengan cara radiasi.
Setelah diketahui sumber penyebab panas dan proses terjadinya rambatan panas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa perambatan panas dapat dicegah dengan cara memberikan bahan pembatas / isolator agar tidak terjadi rambatan, Hal ini dapat dilakukan dengan memakai bahan penyekat yang memiliki konduktifitas termal yang kecil.
Untuk mencegah radiasi dari komponen yang memancarkan panas, seperti pada saluran gas buang dari motor bakar maka perlu diberikan isolator panas seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Pemasangan dengan cara lapisan penahan panas rock woll dililitkan menyelubungi saluran hingga tertutup rapat, langkah berikutnya memberikan tutup dengan lembaran kawat anyaman / wire mesh melingkar menutupi lapisan lembaran pertama, selanjutnya lapisan paling luar di berikan lembaran bahan tahan api biasanya terbuat dari alumunium foil. 
Pada kapal crew boat flex 38 yang di produksi PT. Kim Seah Shipyard Indonesia pemasangan interior tersebut meliputi pemasangan insulation, getaran, panas atau di sebut juga peredam pada deck house. Perlindungan panas yang di pasang pada kapal flex 38 ini bernama HI WOOL SLAB dengan ukuran 1m ×  0.5 M × 50 MM thick, peredam ini di lapisi alumunium foil pada setiap sisinya. Hi Wool Slab di pakai untuk menjaga kondisi suhu di dalam ruangan kapal agar tidak cepat terjadi perubahan suhu di dalam ruangan ketika cuaca ekstrim.

C. Instalasi pemasangan perlengkapan kapal

Pemasangan interior kapal meliputi dinding-dinding interior pada kapal, pintu-pintu, pemasangan pemasangan peralatan navigasi, kelengkapan antar ruangan di kapal termasuk ruang kemudi dll.

1. Instalasi Sistem Kelistrikan dan Navigasi
Jaringan listrik dan panel-panelnya mulai dipasang setelah peluncuran kapal dan bertahap mengikuti pemasangan blok rumah kemudi (Wheel House : BN). Instalasi peralatan dan perlengkapan navigasi mengikuti panduan teknisi dari pabrik pembuat / supplier dan dilaksanakan setelah instalasi blok rumah kemudi dan sebagaian interiornya. Penetrasi kabel-kabel yang menembus sekat dibuat rapih dan kedap.

2. Instalasi Peralatan Perlengkapan Geladak
Instalasi-instalasi ini mencakup:
-          Jangkar, rantai, dan tali temali
-          Mesin Jangkar (Hydraulic System)
-          Peralatan tambat
-          Peralatan Kemudi (Hydraulic dan manual untuk emergency)
-          Perlengkapan Komunikasi dan Navigasi GMDSS
-          Perlengkapan Keselamatan

Sekoci Penolong (lifeboat), Rakit Penolong (liferaft), Gelang Pelampung (lifebuoy), Baju Penolong (lifejacket), Peralatan Pelempar Tali Otomatis, Dan Peralatan lain yang memenuhi persyaratan.
-          Perlengkapan Pemadam Kebakaran
-          Instalasi lampu-lampu penerangan di tiap deck dan ruangan
-          Instalasi lampu-lampu navigasi sesuai ketentuan COLREG.

D. Memasang perlindungan api pada ruangan interior kapal

Sistem pemadam kebakaran merupakan sistem yang sangat vital di dalam sebuah kapal, sistem ini berguna untuk menanggulangi bahaya api yang terjadi di kapal. Sistem pemadam kebakaran secara garis besar dapat dibagi menjadi dua di lihat dari peletakan sistem yang ada yaitu :
Sistem penanggulangan kebakaran pasif, sistem ini berupa aturan kelas mengenai penggunaan bahan pada daerah beresiko tinggi terjadi kebakaran dan juga pemasangan instalasi fix pada daerah beresiko kebakaran.

Sistem penanggulangan kebakaran aktif, sistem ini berupa penanggulangan kecelakaan yang bersifat lebih aktif misal, penempatan alat pemadam api ringan pada daerah yang beresiko kebakaran.

Pada dasarnya prinsip pemadaman adalah memutus ”segitiga api” yang terdiri dari panas, oksigen, dan bahan bakar. Sehingga dengan mengetahui hal ini maka dapat dilakukan pemilihan media pemadaman sesuai dengan resiko dan kelas dari kecelakaan tersebut.

Fungsi Sistem Pemadam Kebakaran
Fungsi dari sistem pemadam kebakaran adalah untuk penanganan jika terjadi kebakaran di kapal. Maka peralatan yang digunakan, berasal dari sistem pemadam kebakaran. Oleh karena itu, sistem pemadam kebakaran harus bisa menangani kebakaran di setiap bagian kapal.

E. Penyelesain Interior Kapal
Jadwal pelaksanaannya adalah setelah instalasi saluran kabel (cable tray), perpipaan dan saluran udara (ducting) selesai. Kriteria isolasi sekat-sekat ini mengikuti spesifikasi material dari spesifikasi teknis dan peraturan yang berlaku. Pekerjaan pada tahap ini adalah pemasangan interior tiap ruangan akomodasi, pelapisan dinding (lining & ceilling) dan pelapisan geladak (deck covering) menggunakan material kayu.

Setelah itu lalu memeriksa dan mengecek kunci kunci dan perlengkapan yang ada di kapal flex 38 untuk menyesuaikan jumlah yang ada di list atau daftar dengan kunci aslinya dan di cek penggunaannya agar tidak ada satupun kerusakan ketika kapal di serahkan kepada owner. Dan pemeriksaan perlengkapan kapal yaitu meliputi peta, bendera, mesin cuci, kulkas pendingin makanan, perlengkapan berlayar, perlengkapan keselamatan di kapal dan lain-lain.


BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

a. Bentuk dasar ruangan yang dikapal secara umum mengikuti lengkungan/ bentuk dari kapal tersebut

b. Tahapan dalam pembangunan interior kapal antara lain adalah :
- Perencanaan pada general arrangement (rencana umum)
- Memasang perlindungan panas (insulation) pada ruangan interior kapal
- Instalasi pemasangan perlengkapan kapal
- Memasang perlindungan api pada ruangan interior kapal
- Penyelesaian interior kapal

B. Saran
Dalam pembangunan sebuah kapal baru perlu di perhatikan dengan teliti dan detail oleh pihak kontraktor dalam proses pembangunannya terutama bagian interior kapal di karenakan pada tahap-tahap pembangunan sangat bergantung pada setiap tahapan proses tersebut agar tidak terjadinya pembongkaran kembali yang mengakibatkan kerugian material, tenaga dan juga waktu.

DAFTAR PUSTAKA

- http://alimsanre.wordpress.com/2010/08/02/37/
- http://navale-engineering.blogspot.com/2012/04/lambung-kapal-hull.html
- http://ninasandyinterior22.blogspot.com/
- http://sbsp.indonetwork.co.id/3202064/cabin-door-pintu-interior-kapal.htm
- http://www.penguin.com.sg/vessel-specs/
- http://tukangbata.blogspot.com/2013/01/pengertian-insulation-atau-insulasi-dan.html
- http://farichaputri1996.wordpress.com/category/teknologi-interior-kapal/

3 komentar: