Jumat, 21 April 2017

Statutory Survey - Load Line Survey

Statutory Survey adalah survey dan inspeksi berdasarkan peraturan wajib dari pihak pemerintah setempat sesuai dengan Negara Bendera kapal tersebut. Peraturan-peraturan yang lazim disebut Regulations dikeluarkan oleh Badan Internasional yaitu International Maritime Organisation (IMO). Yang melakukan Survey ini adalah Inspektor atau Marine Inspector di bawah Badan Maritim dalam suatu negara,dimana kalua di Indonesia di bawah Direktorat Jendral Perhubungan Laut (SeaCom). Marine Inspektor ini berada pada Kantor Kesyahbandaran.
Untuk beberapa negara dan untuk beberapa jenis survey, pekerjaan ini diberikan (diberi Authorisation) kepada Badan Klasifikasi. Dengan pengertian Class Surveyor dapat melakukan Statutory Survey on behalf of Flag Administration. 

LOAD LINE SURVEY 

Regulations yang dipakai adalah “Load Lines, 1966/1988 - International Convention on Load Lines, 1966, as Amended by the Protocol of 1988”. 

1. General 

1.1 Initial survey is carried out if the load lines are assigned for the first time. 
1.2 For ships in service, the existing Certificate is to be reviewed to establish the type of survey due. In this regard: 
• (a) Renewal Surveys will be required every 5 years and before the Certificate in force has expired. (Surveys are to be carried out in tandem with the Special Hull Survey). 
• (b) Four Annual Surveys are required during the duration of the Certificate’s validity. 
• (c) Annual Surveys are to be held within 3 months before and 3 months after the due date. 
1.3 The present requirements apply to ships engaged in international voyages. However, they do not apply to:
• (a) ships of war 
• (b) ships of less than 24 m 
• (c) ships of less than 150 tons gross 
• (d) pleasure yachts not engaged in trade 
• (e) fishing vessels. 

2. Scope of Surveys 

2.1 Initial survey 

(a) Survey includes checking of availability on board: 

(1) Conditions of assignment of load lines; 
(2) Stability information. 

(b) Survey consists of: 

(1) Checking the positions of the deck line and load line which, if necessary, are to be re-marked and re-painted. 
(2) Examining the superstructure end bulkheads and the openings therein. 
(3) Examining the means of securing the weathertightness of cargo hatchways, other hatchways and other openings on the freeboard and superstructure decks. 
(4) Examining the ventilators and air pipes, including their coamings and closing appliances. 
(5) Examining the watertight integrity of the closures to any openings in the ship’s side below the freeboard deck. 
(6) Examining the scuppers, inlets and discharges. 
(7) Examining the side scuttles and deadlights. 
(8) Examining the bulkwarks including the provisions of freeing ports, special attention being given to any freeing ports fitted with shutters. 
(9) Examining the guardrails, gangways, walkways and other means provided for the protection of the crew and for gaining access to and from crew’s quarters and working spaces. 
(10) Examining, when applicable, the special requirements for ships permitted to sail with reduced freeboards. 
(11) Checking, when applicable, the fittings and appliances for timber deck cargoes. 

• (c) Survey includes examination of plans and designs which should consist of: 

(1) Examining the structural strength at the draft corresponding to the assigned freeboard; 
(2) Examining the intact stability, and, where applicable, the damaged stability information and the loading and ballasting information that is to be supplied to the master; 
(3) Determining the freeboard, including specifying and the consideration of the conditions of assignment for the freeboard. 

2.2 Renewal survey 

• Renewal survey is accordance with paragraph 2.1 (a) & (b) of Initial Survey above.  

2.3 Annual survey 

• Annual survey is accordance with paragraph 2.1 (a) & (b) of Initial Survey above. 44 

3. Documents of Load Line Surveyor dalam melaksanakan Load Line Survey akan mengeluarkan atau menerbitkan beberapa dokumen, antara lain. : 

• (1) Load Line Record 
• (2) Load Line Report 
• (3) Load Line Certificate 

3.1 Load Line Record Load Line Record ini dibuat atau dilengkapi datanya sewaktu Initial Survey dilakukan. Kemudian setelah Survey selesai dan sebelum Certificate diterbitkan, Record tersebut sudah harus ada, dimana merupakan Record minimal dalam bentuk draft sudah bisa diserahkan bersamaan dengan penyerahan Certificate. 

3.2 Load Line Report Load Line Report ini di-draft sewaktu Survey dilakukan. Kemudian setelah Survey selesai Report tersebut sudah harus dikeluarkan dan dikirim ke Kantor Pusat atau Negara Bendera dari kapal tersebut paling lambat 2 (dua) minggu dihitung dari tanggal terakhir Survey selesai.

3.3 Load Line Certificate Load Line Certificate ini di-draft sewaktu Initial Survey atau Renewal Survey dilakukan. Kemudian setelah Survey selesai Certificate tersebut sudah harus diterbitkan sebagai bentuk pengesahan bahwa Load Line di kapal sudah sesuai dengan Regulations yang berlaku. Ada dua macam Load Line Certificate, yaitu :
• (1) Interim Load Line Certificate
• (2) Full term Load Line Certificate

(1) Interim Load Line Certificate atau Sertifikat Sementara yang dikeluarkan oleh Surveyor yang melakukan Survey atas nama Negara Bendera dari kapal tersebut. Berlaku maksimum 5 bulan, dimana setelah Survey Report diterima dan disetujui oleh Kantor Pusat atau Negara Bendera kapal tersebut, maka Full term Certificate akan diterbitkan oleh mereka.

(2) Full term Load Line Certificate atau Sertifikat Permanen yang dikeluarkan oleh Kantor Pusat atau Negara Bendera kapal tersebut, setelah Survey Report diterima dan disetujui. Setifikat berlaku maksimum 5 tahun.



Selasa, 11 April 2017

Kaizen, Budaya 5S dan Tujuannya

PENDAHULUAN

Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Kebudayaan sendiri diartikan sebagai segala hal yang berkaitan dengan akal atau pikiran manusia, sehingga dapat menunjuk pada pola pikir, perilaku serta karya fisik sekelompok manusia.  Kemajuan suatu negara maupun perusahaan, tidaklah dapat terlepas dari Budaya yang berkembang di negara maupun di perusahaan tersebut.

Kaizen (Perbaikan Berkesinambungan): Mendorong bangsa Jepang selalu memiliki komitmen tinggi pada setiap pekerjaannya. Setiap pekerjaan harus dilaksanakan dan diselesaikan tepat waktu dan sesuai jadwal, agar tidak menimbulkan pemborosan biaya. Jika tidak tepat waktu sesuai jadwal, maka penyelesaian pekerjaan terhambat dan menimbulkan kerugian. Perusahaan di Jepang menerapkan peraturan “Tepat Waktu”. Inti Kaizen sendiri adalah optimal biaya dan waktu dalam menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) merupakan “Intisari untuk Kaizen”.

5S berasal dari Jepang (beberapa orang menyebut 5S sebagai Teknik Good Housekeeping ala Jepang). Saat ini, 5S sudah diterapkan di banyak perusahaan multinasional di berbagai negara. 5S bukan hanya untuk perusahaan manufaktur. Perhotelan, perbankan, industri pariwisata, perusahaan distribusi, retailer, dsb, juga bisa menerapkan 5S. 5S juga bertujuan meningkatkan kualitas moral pekerja dan  kebanggaan terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. 5S mudah sekali dipahami. Tapi pelaksanaannya tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang. Hambatan akan muncul dari banyak pihak, termasuk dari pemilik perusahaan (inisiator 5S itu sendiri) dan dari pekerja.

5S sangat membutuhkan kesadaran visual oleh seluruh sumber daya manusia dalam perusahaan, khususnya menyangkut ketelitian (visual control).
5S, berdasarkan filosofinya, pelaksanaan tidak boleh dibolak-balik (urut dari S1, S2, S3, S4, dan S5). 5S harus direncanakan dengan matang (planning), terorganisasi (organizing), segera dilaksanakan (actuating), dan diawasi (controlling) pelaksanaannya,

PEMBAHASAN

5S adalah sebuah metode pengelolaan dan pemeliharaan segala kegiatan di tempat kerja (termasuk sarana / prasarana penunjangnya) dalam rangka mengoptimalkan kinerja perusahaan secara keseluruhan (5S bisa dilakukan di seluruh bagian / departemen yang ada di perusahaan, tidak hanya di lantai produksi).

5S dalam pelaksanaannya, sebaiknya dilengkapi dengan check-list. 5S, jika dilakukan dengan penuh komitmen akan mengurangi berbagai komponen biaya (biaya penyimpanan, biaya kebersihan, biaya perbaikan/ perawatan, biaya penambahan ruangan, dsb).

5S, jika dilakukan dengan penuh komitmen, diharapkan akan meningkatkan:

  • Efisiensi.
  • Efektifitas kerja.
  • Produktivitas kerja.
  • Kualitas moral pekerja.
  • Kebanggaan pekerja terhadap pekerjaan dan perusahaan.
  • Meningkatkan citra perusahaan.

5S adalah bagian dari kaizen yang berarti Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke. Mempunyai maksud sebagai berikut :

1.     Seiri ( ) (Ringkas – Sisih – Keteraturan - Pemilahan - Sort)

Merupakan langkah awal implementasi 5S, yaitu: pemilahan barang yang berguna dan tidak berguna: Barang berguna di simpan sedangkan barang tidak berguna dibuang.

Dalam langkah awal ini dikenal istilah Red Tag Strategy, yaitu menandai barang-barang yang sudah tidak berguna dengan label merah (red tag) agar mudah dibedakan dengan barang-barang yang masih berguna. Barang-barang dengan label merah kemudian disingkirkan dari tempat kerja. Semakin ramping (lean) tempat kerja dari barang-barang yang tidak dibutuhkan, maka akan semakin efisien tempat kerja tersebut.
Keuntungan yang akan di dapat dari penerapan seiri ini adalah penghematan pemakaian ruangan, persediaan dan produk barang yang bermutu, dan kecepatan waktu pencarian barang atau dokumen yang sedang di butuhkan. Sehingga menciptakan ruang kerja yg aman dan nyaman.

2.     Seiton ( ) (Rapi – Susun – Kerapian – Penataan - Set In Order)

Seiton adalah langkah kedua setelah pemilahan, yaitu: penataan barang yang berguna agara mudah dicari, dan aman, serta diberi indikasi.

Dalam langkah kedua ini dikenal istilah Signboard Strategy, yaitu menempatkan barang-barang berguna secara rapih dan teratur kemudian diberikan indikasi atau penjelasan tentang tempat, nama barang, dan berapa banyak barang tersebut agar pada saat akan digunakan barang tersebut mudah dan cepat diakses. Signboard strategy mengurangi pemborosan dalam bentuk gerakan mondar-mandir mencari barang.

Setelah menyortir semua barang atau file yang tidak dipergunakan lagi, pastikan segala sesuatu harus diletakkan sesuai posisi yang ditetapkan, sehingga selalu siap digunakan pada saat diperlukan. Pastikan bahwa:

a.     Barang mempunyai tempat
b.     Setiap tempat punya nama untuk barang tertentu.
c.      Buat menjadi terorganisir dan sistematis.
d.  Beri nama pada setiap tempat penyimpanan yang mudah diingat, dapat menggunakan kode pada tempat penyimpan:
§  Bila berbentuk barang, berikan label dengan nama atau visual sebagai ciri khas.
§  Bila berbentuk file atau soft copy data, atur semua folder di komputer.
§  Pastikan agar mudah mengidentifikasi, saat file, barang ataupun benda tersebut dibutuhkan, sehingga tidak perlu membuang banyak waktu untuk mencarinya.

Keuntungan yang akan didapat dalam menerapkan Seiton (Rapi – Susun – Kerapian – Penataan - Set in Order):

- Kuantitatif :
a) Kendali persediaan dan produk, secara efisien.
b) Waktu pencarian yang cepat.
c) Proses kerja yang lebih cepat.
d) Menghindari kesalahan.
e) Meminimalkan terjadinya kehilangan peralatan.

- Kualitatif :
a) Suasana kerja akan lebih nyaman
b) Mendidik dan meningkatkan disiplin karyawan.
c) Memacu karyawan, agar terus menghasilkan ide yang kreatif.
d) Moral karyawan menjadi lebih tinggi.
e) Merasa aman di tempat kerja.

3.  Seiso ( ) (Resik – Sapu – Kebersihan – Pembersihan – Shine)

Setelah menjadi rapi, langkah berikutnya adalah membersihkan tempat kerja, ruangan kerja, peralatan dan lingkungan kerja. Tumbuhkan pemikiran bahwa kebersihan merupakan hal yang fital dalam kehidupan, jika kita tidak menjaga kebersihan, lingkungan akan menjadi kotor dan menjadi faktor utama terjangkitnya penyakit tidak nyaman. Menyebabkan berkurangnya produktivitas dan berakibat banyak kerugian. Lakukanlah pembersihan harian, pemeriksaan kebersihan dan pemeliharaan kebersihan.

Bersih-bersih   sebenarnya bukan  sebagai aktivitas  khusus dari suatu pekerjaan, tapi  pekerjaan ini merupakan  kesatuan   yang menjadi keseharian dari jadwal kerja seseorang.  Dengan menggunakan Seiso ini maka  area kerja  bisa tetap bersih  setelah mengerjakan pekerjaan maupun saat memulai pekerjaan tersebut.  Dalam konsep ini maka akan menghindarkan dari kesalahan  ataupun hal yang aneh  saat bekerja.

Langkah yang sering dilakukan oleh seorang pekerja dalam konsep ini adalah  dengan menata tools, setelah digunakan dikembalikan ke tempatnya dan  dibersihkan dari  kotoran.  Jika tools  bermasalah maka bisa   diketahui dan digantikan dengan yang baru. Bila di kantor maka setelah bekerja, file-file  ditata kembali  pada tempatnya semula.

Kebersihan ini sangat penting, di kantor karyawan bisa menata kembali  meja kerjanya dan sekelilingnya dari dokumen-dokumen yang tidak terpakai. Sampah-sampah dibuang  pada tempat sampah. Kegiatan ini adalah satu kesatuan   yang  harus dilakukan setiap hari dalam jadwal kerja. Sebagai nilai tambah, ketika anda mencari  ingin mengambil dokumen yang dibutuhkan maka tidak membutuhkan waktu lama dan segera bisa mendapatkannya dengan mudah.  Kdang kebersihan ini dianggap sangat sepele namun hasilnya sangat luar biasa bagi karyawan. Kebersihan ini akan membantu proses bekerja dan juga proses operasional perusahaan. Kebersihan tidak hanya dilakukan  di kantor tapi juga bisa dilakukan di tempat produksi atau pabrik.

Keuntungan yang akan didapat dalam menerapkan Seiso (Resik-Sapu- Kebersihan-Pembersihan–Shine):

- Kuantitatif:
a) Sistem pengawasan persediaan dan produk yang lebih murah dan hemat.
b) Meminimalkan biaya kerusakan pada peralatan.
c) Proses kerja cepat dan tidak berulang.
d) Meningkatkan kualitas produk.
e) Waktu melakukan pembersihan lebih cepat.

- Kualitatif:
a) Suasana kerja lebih nyaman dan ceria.
b) Karyawan terus menghasilkan ide yang kreatif.
c) Moral karyawan meningkat.
d) Aman di tempat kerja.

4. Seiketsu ( ) (Rawat - Seragam - Kepatuhan - Pemantapan -     Standardized)

Seiketsu adalah langkah selanjutnya setelah seiri, seiton, dan seiso, yaitu: penjagaan lingkungan kerja yang sudah rapi 
dan bersih menjadi suatu standar kerja. Keadaan yang telah dicapai dalam proses seiri, seiton, dan seiso harus distandarisasi. Standar-standar ini harus mudah dipahami, diimplementasikan ke seluruh anggota organisasi, dan  diperiksa secara teratur dan berkala.

Tahap ini adalah tahap yang sukar. Untuk menjaga ketiga tahap yang sudah dijalankan sebelumnya secara rutin. Tahap ini dapat juga disebut tahap perawatan, merupakan standarisasi dan konsistensi dari masing- masing individu untuk melakukan tahapan-tahapan sebelumnya. Membuat standarisasi dan semua individu harus patuh pada standar yang telah ditentukan.  Dapat dimotivasi dengan memberikan hadiah atau hukuman.



Konsep tersebut merupakan sebuah standart baku yang menyatu dengan  pekerjaan utama anda. Pembiasaan ini bisa dilakukan dalam  lingkup operasional perusahaan dan menjadi hal yang  dilakukan  terus menerus untuk  hasil yang maksimal. Pembiasaan kadang merupakan hal yang biasa bagi perusahaan namun  konsep ini sangat membantu kegiatan operasional perusaaan dan kegiatan lainnya.

Keuntungan yang akan didapat dalam menerapkan Seiketsu (Rawat- Seragam-Kepatuhan-Pemantapan–Standardize):

- Kuantitatif :

a) Biaya penyelenggaran operasi yang rendah.
b) Biaya pengeluaran tambahan (overhead) yang rendah.
c) Efisiensi dari proses meningkat.
d) Kuantitas pengeluaran menurun.
e) Sedikit keluhan dari pelanggan.
f) Produktivitas karyawan meningkat.

- Kualitatif :

a) Mendidik disiplin karyawan positif.
b) Karyawan terus menghasilkan ide kreatif.
c) Kemahiran karyawan meningkat.
d) Karyawan setia kepada organisasi.
e) Citra organisasi meningkat

5. Shitsuke ( ) (Rajin – Senantiasa – Kedisiplinan  – Pembiasaan – Sustain)

Konsep ini merupakan fase terakhir dari serangkaian konsep 5S, penetapan pendisiplinan ini  merupakan proses panjang yang berkelanjutan. Pemeliharaan kedisiplinan pribadi meliputi suatu kebiasaan dan pemeliharaan program 5S yang sudah berjalan.

Bila berada pada posisi sebagai atasan, buatlah standarisasi 5S serta berikan pelatihan 5S, agar seluruh karyawan perusahaan dapat mengerti akan kegunaan dari 5S sebagai dasar kemajuan perusahaan, karena dengan menerapkan 5S yang praktis dan ringkas bertujuan pada efisiensi, pelayanan yang baik, keamanan bekerja serta peningkatan produktivitas dan profit.


Keuntungan yang akan didapat dalam menerapkan Shitsuke (Rajin- Senantiasa- Kedisiplinan-Pembiasaan–Sustain):

- Kuantitatif :
a) Biaya pengeluaran rendah.
b) Produktivitas karyawan meningkat.
c) Kualitas produk/layanan meningkat.
d) Memperoleh manfaat dari pelaksanaan 5S.
e) Meminimalkan kecelakaan di tempat kerja.

- Kualitatif :

a) Disiplin karyawan meningkat dan inovatif.
b) Ketrampilan karyawan meningkat.
c) Kesehatan karyawan bertambah baik.
d) Karyawan setia kepada organisasi.
e) Budaya kerja antar tim yang tinggi.


Jenis Dock Kapal

PENGEDOKAN KAPAL

A.    Pengedokan Kapal
Pada dasarnya pengedokan suatu kapal mempunyai suatu keperluan yaitu antara lain:
1)      Emergency docking
Pengedokan kapal untuk mereparasi kerusakan-kerusakan yang mendadak seperti:
·         Terlepasnya propeller kapal
·         As atau poros propeller maupun kemudi mengalami pembengkokan atau patah
·         Kerusakan daun kemudi (rudder blade), dsb
2)      General docking
Pengedokan kapal yang dilakukan secara berkala untuk tenggang waktu lima tahunan untuk reparasi menyeluruh. Bagian-bagian yang direparasi diantaranya adalah:
·         Overhoul mesin induk
·   Pengecekan dan pengetesan keseluruhan tebal yang diperkirakan telah mengalami pengurangan ketebalan.
3)      Annual docking
Pengedokan kapal yang akan masuk dock dengan selang waktu kontinyu setahun sekali. Bagian-bagian yang akan diperiksa antara lain:
·         Bottom cleaning serta penggantian zinc anode
·         Penggantian pelat (replating)
·         Pengurangan spelling as propeller
·         Pengecatan bagian lambung yang terendam air

 A.1  Penggolongan Dok Kapal
Faktor-faktor teknis dan ekonomis pada pengoperasian kapal (kecepatan, pemakaian bahan bakar, biaya eksploitasi, dan lain-lain) pada dasarnya tergantung dari keadaan kondisi badan kapal dibawah garis air. Oleh karena itu Biro klasifikasi dan kesyahbandaran serta Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menentukan periode pengedokan kapal atau perbaikan kapal diatas dok yang kesemuanya tergantung dari umur kapal, kelas kapal keadaan dan kebutuhan kapal.
Untuk keperluan pembersihan badan kapal dibawah garis air, memeriksa kerusakan, memperbaiki kerusakan serta merawat badan kapal di bawah garis air diperlukan suatu tempat khusus beserta peralatan pendukungnya dan tempat ini dinamakan dok.
Ada bermacam-macam jenis dok yang melengkapi suatu galangan kapal yaitu: dok kolam (graving dock), dok apung (floating dock), dok tarik (slip way), dok angkat (syncrolife dry dock) dan dok balon (airbag system).

A.1.1   Dok Kolam (Graving Dock)
Dok kolam yang sering juga disebut Dok Kolam adalah suatu bangunan dok berbentuk kolam yang terletak di tepi laut atau sungai. Dok kolam mempunyai dinding yang kokoh seperti kolam renang karena pada saat kosong, dok akan menerima tekanan tanah dari sekitarnya, sedangkan pada saat ada kapal yang akan dimasukkan kedalam atau dikeluarkan dari dalam dok kolam tersebut, beban berat air akan diterima oleh dinding dan lantai dok kolam tersebut.
Untuk keluar masuknya kapal dari dok kolam, maka dok kolam mempunyai sebuah pintu. Pintu dok kolam berbentuk seperti sebuah ponton dan terbuat dari suatu kontruksi baja. Pada pintu tersebut terdapat rongga-rongga yang dapat diisi air ataupun dikosongkan sehingga pintu itu bisa terapung diatas air dan dipindahkan apabila rongga-rongga tersebut telah dalam kondisi kosong. Selain itu juga dilengkapi dengan katup - katup yang dapat dibuka guna mengisi rongga-rongga tersebut dengan air supaya pintu itu tenggelam. Untuk mengeluarkan air baik dari rongga-rongga pada pintu maupun air yang berada pada kolam maka dok ini dilengkapi dengan pompa air. 
Sebagai tempat untuk membangun atau memperbaiki kapal, maka sama dengan fasilitas tempat pembangunan kapal yang lain dok kolam dalam operasionalnya selalu dilayani dengan berbagai peralatan angkat yang mempunyai kapasitas angkat cukup besar sesuai dengan kapasitas dok kolam itu sendiri yang berjalan di sisi atas dinding Dok kolam tersebut.Urutan kerja saat kapal masuk dok kolam (Graving Dock):
1)  Keel Block (tempat dudukan kapal diatas Dok) dipersiapkan. Semua peralatan yang disiapkan tidak boleh ada yang mengapung ketika di dalam air.
2)   Katup-katup air pada dok kolam dibuka sehingga air masuk ke dalam dok kolam sampai permukaan air di dalam dan di luar dok kolam sama tingginya.
3)    Air di dalam rongga-rongga pintu dikeluarkan sampai pintu dapat terapung (pintu terbuka) dan digeser atau dipindahkan.
4)  Kapal masuk kedalam dok dan diatur agar tepat duduk diatas block-block yang telah dipasang, sesuai metode yang digunakan. Untuk menahan kapal agar selalu tepat pada posisinya dapat dipergunakan penunjang-penunjang yang diletakkan di dinding dok dan menahan lambung kiri kanan kapal.
5)      Pintu ditarik, digerakkan ke posisi menutup.
6)  Katup-katup air pada pintu dibuka sehingga air masuk kedalam pintu dan pintu mulai tenggelam untuk menutup dok kolam tersebut.

Pada Graving Dock atau dok kolam, Terdapat 4 tangki di dalam pintu dok. Dalam kondisi ini hanya ada 3 tangki ballast yang akan diisi, sedangkan yang 1 buah berupa tangki ballast mati, artinya dalam kondisi sudah terisi dengan air. Untuk pengisian tangki-tangki ini tidak diisi penuh semuanya, tetapi disesuaikan dengan kondisi tekanan air yang ada di dalam dan di luar dok, sampai pintu dapat terbuka. Setelah kondisi permukaan air yang terdapat di dalam dok dan di luar dok sama serta tekanannya sama, maka pintu dok akan terbuka dengan sempurna.

Keuntungan graving dock :
·         Lebih aman di banding sistem yang lain.
·         Tenaga utama menggunakan pompa.
·         Biaya pemeliharaan kecil
·         Umur pemakaian lama.
·         Peralatan dan perlengkapannya lebih sedikit.
Kerugian graving dock :
·         Biaya pembuatannya mahal dan waktu pembuatannya lama.
·         Keadaan tanahnya harus betul-betul baik.
·         Merupakan bangunan tetap yang tidak dapat dipindahkan.

A.1.2   Dok Apung (Floating dock)
Dok apung atau floating dock adalah sebuah bangunan konstruksi berupa ponton-ponton yang dilengkapi dengan crane pengangkat, pompa-pompa air dan perlengkapan tambat serta perlengkapan reparasi kapal lainnya. Konstruksi  ini dapat ditenggelamkan atau diapungkan dalam arah vertikal.
Cara kerja dok apung adalah sebagai berikut:
1)      Sebelum dilakukan penenggelaman dok apung maka harus diketahui terlebih dahulu sarat kapal yang akan naik dok serta berapa meterkah bagian- bagian yang menonjol dari kapal.
2)      Berdasarkan data-data yang diperoleh dari rencana dok (dock plan) maka dok apung ditenggelamkan dengan cara seluruh katup-katup pembagi dibuka dan air masuk kedalam rongga-rongga atau tangki ponton, sehingga dok secara perlahan turun. Dok apung harus dijaga agar kondisinya even keel. Jika sarat air diatas ponton telah mencapai sarat apung kapal maka dengan bantuan kapal tunda kapal, kapal akan didorong masuk ke dok apung dalam kondisi mesin induk dan mesin bantu harus dimatikan.
3)      Selanjutnya diadakan penambatan kapal dengan tali-tali yang berfungsi untuk membatasi ruang gerak bagi kapal tersebut,  sehingga lebih mudah untuk duduk pada ganjal-ganjal yang sudah disiapkan. Setelah kapal mulai masuk ke dalam dok apung dan posisinya mencapai ketentuan yang diinginkan dan siap untuk duduk pada posisinya.
4)      Jika mengalami trim maupun keolengan pada kapal, maka haruslah diusahakan menyeimbangkannya dengan memberi air balas, mengurangi, menambah atau memindahkannya.
5)      Sesudah posisi kapal stabil dan posisinya tepat sesuai dengan yang diinginkan, maka dok kembali diapungkan secara perlahan-lahan dan diadakan pengawasan, penjagaan, dan kontrol terhadap kedudukan dan posisi kapal.
6)      Untuk pengecekan posisi kapal apakah sudah tepat sesuai ketentuan maka dilakukan penyelaman untuk memastikan kapal benar-benar duduk tepat pada ganjal- ganjal (keel block dan slide block) .
Keuntungan floating dock :
·         Dok apung tempatnya dapat dipindahkan.
·         Biaya pembuatannya lebih murah dari pada dok kolam.
·         Dok apung dapat menaikkan kapal dengan panjang lebih dari 15-20% dari panjang dok apung sendiri, sedangkan dok kolam tidak bisa.
Kerugian floating dock :
·         Umur pemakaian lebih rendah dari pada dok kolam
·         Memerlukan daerah perairan yang cukup dalam, agar dok apung tidak duduk dilumpur (dasar perairan) pada waktu menaikan kapal
·         Memakai tenaga yang lebih besar dibanding dengan dok kolam.


A.1.3   Dok Tarik (Slip Way)
Dok tarik adalah fasilitas pengedokan kapal dengan cara mendudukan kapal diatas kereta yang disebut trolley dan menarik kapal tersebut dari permukaan air dengan mesin derek dan tali baja melalui suatu rel yang menjorok masuk kedalam perairan dengan kecondongan tertentu sampai ketepi perairan yang tidak terganggu oleh pasang surut dari air laut.

A.1.4   Dok Angkat (Syncrolift Dry dock)
Dok angkat atau syncrolift dry dock adalah suatu fasilitas pengedokan kapal dengan menggunakan lift. Peralatan (plat form) dari dok angkat ini diturunkan dengan pertolongan pengantar lift. Dari beberapa mesin derek listrik yang terletak disebelah kanan dan kiri dari peralatan dok angkat ini.
Setelah peralatan mencapai kedudukan tertentu kemudian kapal dimasukkan tepat diatas ganjal-ganjal (blok lurus atau pun balok samping) yang sudah disiapkan sebelumnya. Kemudian peralatan ini diangkat ke permukaan air.

A.1.5   Dok Balon (Airbag System)
Ship Airbags (AB) pertama kali dikembangkan oleh bidang militer angkatan laut sebagai alat apung transportasi, jembatan, lifting peralatan berat, dan lain-lain. Kemudian airbags berkembang untuk digunakan di bidang non militer khususnya industri galangan kapal untuk keperluan docking, undocking dan peluncuran kapal.
Penggunaan airbags sebagai alternatif dalam proses docking dan peluncuran kapal tidak terlepas dari semakin meningkatnya pemikiran tentang perkembangan teknologi yang berkaitan dengan tipe galangan inovatif yang fleksibel, mobilitas, aman, dapat dipercaya, tidak banyak asset tertanam, tidak banyak perawatan, proses juga lebih aman dan sudah terbukti menguntungkan dengan resiko relatif lebih rendah. Simulasi penarikan kapal yang dilaksanakan dalam beberapa tahapan yaitu sebagai berikut:
1) Tahapan persiapan:
·         Memperhatikan kebersihan areal untuk menaikkan kapal.
·         Mempersiapkan kapal yang akan ditarik.
·         Pengaturan posisi awal airbags.
·         Penempatan dan pemompaan airbags (untuk mendongkrak haluan kapal).
2) Tahapan penarikan kapal:
·         Penempatan dan pemompaan airbags (untuk menarik kapal).
·         Menghitung gaya tarik untuk menaikkan kapal.
·         Menjelaskan spesifikasi airbags tentang working height airbags dan working pressure.
`
B.     Proses Docking
Untuk memperbaiki atau mereparasi bagian kapal yang berada dibawah garis air, maka kapal harus melakukan pengedokan. Adapun persiapan pengedokan dilakukan bersama antara crew kapal dengan pihak galangan (bidang sarana laut) agar pengedokan berjalan dengan baik. Sebelum pengedokan pihak owner memberikan data-data kapal yang diperlukan pihak galangan seperti docking plan yang akan digunakan untuk membuat posisi side block, selain itu juga data mengenai data berat kapal kosong (LWT) dan ukuran utama kapal agar dapat disesuaikan dengan kemampuan dari dok. Walaupun sudah mendapat data kapal kadang-kadang dari pihak galangan juga harus mengecek ke lapangan untuk membandingkan data yang didapat dengan realitanya di lapangan kemudian data tersebut diarsipkan sehingga apabila kapal tersebut melakukan  pengedokan kembali persiapan dapat dilakukan dengan cepat karena datanya sudah ada.
Sebelum kapal dinaikkan ke atas dok maka ada beberapa hal yang harus dipersiapkan yaitu: data-data kapal, informasi tentang kapal kepada kepala dok (dock master) dan apa saja yang masuk kontrak kerja dalam perawatan dan perbaikan kapal.
Kontrak kerja berisi antara lain:
a)      Rincian pekerjaan yang harus dikerjakan oleh pihak dok.
b)      Waktu penyelesaian pekerjaan (kalender kerja).
c)      Harga penawaran (dari pihak pemilik kapal).
d)     Cara pembayaran.
e)      Asuransi kapal.
f)       Sanksi bila pekerjaan tidak sesuai kontrak (kualitas pekerjaan atau waktu penyelesaian).
Data-data yang harus dipersiapkan dalam proses pengedokan kapal meliputi:
1)      Gambar rencana dok dari kapal (Docking Plan),
2)      Gambar Rencana umum (General Arangement)
3)      Gambar konstruksi badan kapal (Construction Profile)
4)      Gambar penampang tengah badan kapal (Midship section)
5)      Gambar kapasitas tangki dasar ganda dan tangki- tangki lainnya (Capacity Plan)
6)      Gambar bukaan kulit kapal
7)      Ukuran Pokok Kapal meliputi, Panjang kapal seluruhnya (Loa), Panjang kapal pada garis tegak (Lpp), Lebar kapal (B), Tinggi sampai geladak utama (H), Sarat maksimum kapal (T max), Berat kapal kosong (tanpa muatan) pada saat naik dok.

B.1  Proses Docking Kapal di Floating Dock
Untuk menghindari kecelakaan dalam proses pengedokan kapal :
1)      Kondisi kapal pada sarat haluan dan sarat buritan diusahakan tidak begitu besar perbedaannya.
2)      Kapal diusahakan tanpa adanya kemiringan dalam arah melintang.
3)      Kapal diusahakan bebas dari bahan bakar atau minyak pelumas (tangki-tangki bahan bakar maupun minyak pelumas,air) diusahakan kosong.
4)      Kapal diwajibkan bebas dari bahan-bahan yang mudah meledak atau terbakar.
5)      Pihak dok berhak membuang isi tangki untuk tujuan di atas.

B.1.1  Persyaratan Kapal Naik ke Dock

1)      Kapal yang naik dock harus memenuhi sarat maksimum yang dimiliki dock (apung) serta kemampuan angkat dock tersebut. Dan dock plan sudah dalam posisi yang direncanakan sesuai dengan kapal yang akan naik dock.
2)      Kapal yang masuk diusahakan dalam keadaan rata (even keel), apabila tidak rata maka bisa diatasi dengan mengisi atau mengosongkan ballast pada haluan atau buritan.
3)      Kapal harus dalam keadaan kosong, baik bahan bakar, air tawar, air ballast, atau bahan-bahan yang akan terbakar. Untuk mengosongkan tangki dilakukan oleh pihak pemilik kapal sehingga kapal yang diperbaiki sudah bersih dari bahan-bahan tersebut.
4)      Bahan-bahan yang mudah terbakar atau meledak harus diturunkan dari kapal, biasanya untuk armada kapal perang terdiri dari amunisi, bahan peledak dan lain-lain.
5)      Khusus kapal tanker bila naik dock harus sudah bebas gas (gas free di lakukan oleh pihak pemilik kapal). Sertifikasi gas free berlaku selama 24 jam setelah sertifikat di keluarkan. Dalam pori-pori pelat masih mengandung gas yang mudah memuai dan terbakar. Sehingga sebelum dilakukan pemotongan atau pengelasan sebaiknya kondisi kapal harus bebas gas.

·         Persiapan Naik Dock

1)      Tempat sandar, tanggal dan waktu kapal naik dock harus sudah diketahui agar mempermudah kapal tunda dalam penjemputan atau penarikan kapal.
2)      Pengecekan data-data kapal untuk persiapan pemasangan keel block dan side block yang sesuai dari kapal-kapal tersebut, seperti rencana garis dan konstruksi profil kapal.
3)      Aliran listrik yang ada diatas kapal harus dicek karena aliran listrik kapal saat di docking akan di supply dari galangan. Pengecekan ini untuk mengetahui berapa jumlah tenaga dan voltage yang ada di kapal untuk penyesuaian aliran listrik dari galangan ke kapal.
4)      Menggambar docking plan yang telah ada menjadi skala 1 : 1 guna kebutuhan persiapan block sehingga tidak mengalami selisih jarak yang berarti. 

·         Proses Kapal Naik ke Dock

1)      Gambar rencana umum kapal akan naik disederhanakan oleh juru gambar bidang sarana laut agar dapat  menentukan letak-letak keel block dan side block sesuai dengan bentuk lambung kapal.
2)      Gambar sederhana (docking plan) diberikan kepada orang lapangan di dock agar mudah pembacaan gambar untuk peletakan blok rata-rata jarak antara keel block kurang lebih 1m.
3)      Sedangkan jarak side block disesuaikan dengan bentuk badan kapal.
4)      Setelah peletakan block-block selesai dan sesuai dengan bentuk kapal, floating dock di benamkan dengan cara memompa air kedalam ponton dock dari control room.
5)      Sarat floating dock disesuaikan dengan sarat kapal yang akan naik.
6)      Agar posisi kapal tepat pada block  yang telah direncanakan maka ada tiga orang pengawas yang mengatur posisi tersebut dimana satu orang di tengah mengawasi  center line kapal tepat pada keel block dan 2 orang di kiri dan di kanan kapal mengawasi bagian plimsoll kapal.
7)      Untuk kapal-kapal khusus seperti Kapal KRI yang mempunyai banyak peralatan di bawah badan kapal (sonar) atau kapal yang baru pertama kali naik dock atau kapal dengan bentuk V sehingga memerlukan side block yang tinggi dan pada kapal yang digeser untuk proses pengecatan pada bagian keel block sehingga diperlukan penyelam untuk membantu pengedokan.
8)      Air dalam ponton dock dikeluarkan dengan pompa yang dikendalikan dari control room.
9)      Apabila proses reparasi badan kapal yang ada di bawah garis air kapal sudah selesai, kapal dapat diturunkan dari dock dan melanjutkan reparasi lain pada saat kapal mengapung.

·         Proses Penurunan Kapal

1)           Sebelum kapal turun dari dock terlebih dahulu memeriksa sea valve, kemudi, propeller dan penggantian pelat agar air tidak masuk ke kapal.
2)           Dari control room floating dock ponton dok diisi dengan air sampai draft tertentu sesuai dengan draft yang dibutuhkan kapal agar dapat  keluar dari dock.
3)           Kapal dibantu oleh kapal tunda untuk menarik kapal dari belakang  sehingga kapal keluar dari dock
4)           Proses Docking Kapal di slipway.

·         Proses pemasukkan kapal di atas slipway

1)      Keel blok dan side blok disusun oleh pihak galangan berdasarkan dock plan yang dimiliki kapal yang akan direpair. Landasan slipway diturunkan secara perlahan-lahan ke dalam air laut.
2)    Kapal dimasukkan ke dalam area slipway yang telah ditenggelamkan dengan bantuan tugboat. Selanjutnya kapal ditempatkan pada posisi tepat pada keel blok dan side blok, untuk memastikannya dock master meminta petugas untuk memantau atau menyelam pada daerah keel blok dan side blok.
3)     Kapal diposisikan di atas slipway secara hati-hati agar posisi kapal tidak berubah dan supaya lambung kapal tidak membentur dinding slipway.
4)      Setelah kapal tetap pada kedudukannya, maka slipway ditarik secara perlahan-lahan dengan jarak yang telah ditentukan sehingga badan kapal tidak tercelup air.
5)      Kapal siap dibersihkan, dipasang alat-alat kerja selanjutnya direparasi.

·         Proses penurunan kapal dari slipway

1)      Persiapan kapal yang akan diturunkan tidak jauh berbeda dengan persiapan kapal ke atas slipway. Syarat utamanya adalah semusdaa pekerjaan dibawah kapal benar-benar selesai.
2)      Kapal diikatkan dengan kedua tali pada kedua sisinya dan ujung lainnya dipegang beberapa orang untuk mencegah terjadinnya benturan antara kapal dengan dinding slipway.
3)      Kapal mulai diturunkan secara perlahan-lahan ke dalam air, ketika bagian buritan kapal berada pada permukaan air kapal dihentikan untuk memeriksa plat hasil reparasi.
4)      Jika tidak ada masalah slipway diturunkan secara perlahan sampai kapal mengapung keseluruhan. Kemudian Kapal ditarik keluar dari area slipway dengan bantuan tugboat. Operasional penurunan kapal selesai
5)      Selanjutnya repair diatas garis air dapat dilanjutkan, jika hal tersebut diperlukan.