Selasa, 24 Februari 2015

Pembuatan dan pemasangan interior pada kapal

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses mendesain interior pada kapal bangunan baru cukup mirip dengan proses mendesain interior baru dalam suatu bangunan lama. Meskipun ada kesamaan dalam prosesnya, desain bangunan baru melibatkan beberapa pertimbangan yang kompleks dan bukan merupakan bagian dari proses perencanaan interior. Beberapa pertimbangan tersebut adalah, elemen bangunan, bentuk interior, penempatan sistem kontrol lingkungan, di mana membutuhkan keahlian yang tidak berkaitan dengan keahlian tipikal perencanaan ruang interior.

Perencanaan ruang interior yang sempurna hanya bisa di dapatkan dengan perhatian terhadap detail, baik dalam pengembangan program maupun proses perencanaan fisik itu sendiri. Karena tugas mendesain suatu bangunan menjadi semakin kompleks.

Dalam pembangunan suatu interior pada kapal harus di tinjau dan di sesuaikan menurut kondisi dari kapal tersebut yaitu berdasarkan : 
1. Kapal menurut bahannya
2. Kapal menurut alat penggeraknya
3. Kapal berdasarkan mesin penggerak utamanya
4. Kapal berdasarkan fungsi dan kegunaannya

Kapal Penumpang (passenger ship) adalah kapal yang khusus mengangkut penumpang. Kapal penumpang ada yang besar dan ada yang kecil. Kapal penumpang kecil kebanyakan digunakan untuk pesiar antar pulau yang tak begitu jauh menyusuri pantai atau sungai yang menghubungkan antar kota sebagai komunikasi transportasi atau sebagai angkutan para pekerja offshore.
Kapal penumpang besar biasanya dipakai untuk pelayaran antar pulau yang jauh atau antar benua untuk tourist dan lain-lain dan di lengkapi fasilitas mewah. Selain itu kapal penumpang dilengkapi dengan alat keselamatan pelayaran yang lebih lengkap, dibandingkan dengan kapal-kapal lainnya misalnya sekoci penolong, baju penolong dan perlengkapan keselamatan lainnya. Semua kapal penumpang kecuali kapal penumpang cepat biasanya selalu membawa sedikit muatan barang.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, penulis akan mengajukan rumusan masalah sebagai berikut yaitu:
1. Bagaimana pembangunan kapal di PT. Kim Seah Shipyard Indonesia?
2. Apakah yang di maksut dengan kapal flex 38 buatan PT. Kim Seah Shipyard Indonesia?
3. Apakah yang di maksut dengan perencanaan ruang interior kapal?
4. Bagaimana tahap - tahap pembangunan ruang interior kapal pada kapal flex 38?

C. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui bagaimana pembangunan kapal di PT. Kim Seah Shipyard Indonesia.
2. Mengetahui apa yang di maksut dengan kapal flex 38 buatan PT. Kim Seah Shipyard Indonesia.
3. Mengetahui apa yang di maksut dengan perencanaan ruang interior kapal.
4. Mengetahui tahap – tahap pembangunan ruang interior pada kapal flex 38.

BAB II
LANDASAN TEORI

- Pembangunan Interior Kapal

Di dalam pembangunan interior kapal haruslah memperhatikan penentuan pembagian ruangan – ruangan utama di dalam kapal, di karenakan hal tersebut sangatlah mempengaruhi lancarnya pelaksanaan dan penyelesaian dari aktifitas suatu pelayaran kapal tersebut. Penentuan pembagian ruangan tersebut antara lain adalah :

1. Ruangan muatan, 
2. Ruangan mesin, 
3. Ruang akomodasi anak buah kapal
4. Ruangan navigasi, 
5. Ruangan lain lain

Tujuan penentuan pembagian ruangan tersebut adalah di karenakan ruangan yang berada di dalam kapal terbatas/ kecil dan terkadang dengan bentuk yang tidak tentu seperti melengkung dan lain-lain, dalam situasi tertentu ruangan yang sempit atau terbatas tersebut dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan sebagai tempat tinggal, tempat bekerja dan istirahat dari kru atau penumpang kapal selama dalam pelayaran yang terkadang tidak hanya membutuhkan waktu yang sebentar bahkan bisa berbulan bulan tinggal di dalam kapal. Oleh karena itu  sebuah interior suatu ruangan di kapal harus lah dapat memenuhi tuntutan tersebut diatas.

Dalam pembangunan suatu interior kapal itu terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain :
1. Jumlah dan tipe dari perlengkapan dan peralatan galangan pendukung pembuatan interior serta kapasitasnya.
2. Jumlah ukuran serta tipe kapal yang akan dibangun.
3. Bagian kelistrikan dan bagian interior kapal.
4. Kemampuan tenaga kerja bagian interior kapal

BAB III
METODE PENULISAN

Metode penulisan yang di pakai untuk menyusun makalah ini adalah sebagai berikut:
Pengumpulan Data
a. Tinjauan langsung (survey atau observation langsung), menitik-beratkan peninjauan langsung apa yang ada di lapangan, yaitu dengan melihat langsung apa yang dikerjakan para pekerja, misalnya seperti pembangunan interior kapal, pengetesan hasil kualitas las dan lain-lain
b. Wawancara, dilakukan dengan mengadakan diskusi atau tanya jawab dengan pihak galangan atau pihak lain yang berkompeten terhadap masalah tersebut.
c. Metode kepustakaan (literature), pengumpulan data yang dibutuhkan dengan cara membaca literature baik di dalam materi perkuliahan, perpustakaan maupun dalam wacana di internet ataupun berbagai macam  media lainnya yang memiliki hubungan dengan judul makalah yang dibuat penulis.
2. Pemilihan Data yang Sudah Didapat, yaitu dengan memilah-milih data mana yang relevan dengan makalah yang akan ditulis
3. Penulisan Makalah
a. Pengetikan, yaitu penulisan makalah dengan memakai Microsoft Word 2010 yang telah tersedia pada laptop / komputer.
b. Pengeditan, yaitu memperbaiki makalah sebelum dicetak misalnya : kesalahan kata, kesalahan penulisan gelar, kesalahan penulisan daftar pustaka dan sebagainya
4. Mencetak Makalah

BAB IV
PEMBAHASAN

Pembangunan Kapal di PT. Kim Seah Shipyard Indonesia

PT. Kim Seah Shipyard Indonesia yang terletak di Jalan Kawasan Industri sekupang no.61 Kelurahan Tg. Riau no 61. Batam ini mempunyai department – department yang membantu dalam proses produksi pembangunan sebuah kapal baik dari segi kualitas produk maupun dalam proses pembuatannya. PT. Kim Seah Shipyard Indonesia rata-rata memproduksi kapal berjenis crew boat, dengan tipe flex 38, flex 38 S, flex 38 SL. Kapal crew boat yang di produksi oleh PT. Kim Seah Shipyard Indonesia berbahan dasar alumunium dengan spesifikasi material 5083 grade H 321 / H 116. Kapal flex yang di produksi berjenis allumunium vessel atau high speed craft, yaitu kapal yang mengandalkan kecepatan (speed) di dalam pelayarannya berfungsi untuk mengangkut para karyawan atau pekerja off shore (lepas pantai).
Bahan material yang di gunakan untuk pembangunan kapal flex 38 berbahan alumunium dan di datangkan dari Penguin Singapore (Penguin Shipyard International).
Galangan kapal yang berada di Singapore spesialis pada pembuatan kapal yang berbahan dasar Alumunium, dan galangan yang berada di Batam, Indonesia fokus kepada keduanya yaitu pembuatan kapal alumunium dan pembuatan kapal yang berbahan steel atau baja.
Bahan material alumunium di gunakan untuk pembangunan kapal crew boat ini karena lebih ringan dan kapal crew boat termasuk kapal cepat jadi bisa menghasilkan paduan yang memberikan nilai lebih. Alumunium juga bersifat lebih tahan korosi yang tentunya bisa mengurangi biaya perawatan.
PT. Kim Seah Shipyard Indonesia bertindak sebagai kontraktor dan pada proses pembuatan kapal terdapat 10 subcont yang membantu proses pembuatan kapal baru sesuai dengan tugasnya masing-masing yaitu : PT. Vista Maritim Indonesia, PT. Alusteel Engineering Indonesia, PT. Wing Yong, PT. Zheng Guang Fa, PT. Sriwijaya Teknindo, PT. Fortuner CSJ, PT. LBS, PT. Maritime Makmur Sejati, PT. Sim Metal, PT. Pai Lian.
Semua subcont tersebut memiliki tugas masing-masing dalam pembangunan kapal flex 38 yang kira - kira dalam proses pembuatannya memakan waktu kurang lebih sekitar 6 bulan.

Tentang Kapal Flex 38

Kapal Flex 38 adalah kapal berjenis Flex crew boat berbahan dasar alumunium buatan PT. Kim Seah Shipyard Indonesia berfungsi untuk kapal penyedia jasa angkutan para pekerja offshore dengan kapasitas angkut 90 orang pekerja offshore dengan spesifikasi material 5083 grade H 321 atau H 116 (marine grade). Bahan material alumunium di gunakan untuk pembangunan kapal crew boat ini karena lebih ringan dan kapal crew boat termasuk kapal cepat jadi bisa menghasilkan paduan yang memberikan nilai lebih dalam hal kecepatan. Alumunium juga bersifat lebih tahan korosi yang tentunya bisa mengurangi biaya perawatan.

Perencanaan Ruang Interior Kapal

Dalam merencanakan interior kapal pada dasarnya sama dengan merencanakan interior pada bangunan–bangunan darat lainya. Hal yang membedakan adalah lingkungan, dimana kapal beroperasi di daerah yang korosif, adanya gaya-gaya luar yang bekerja seperti ombak yang besar, badai dan gangguan dari dari lingkungan lainnya. 
Selain itu salah satu  yang membedakan adalah bentuk ruangan yang khas dengan bentuk kapal, ruangan yang terbatas/ kecil dan terkadang dengan bentuk yang tidak tentu seperti melengkung dan lain sebagainya. Sedangkan dalam situasi tertentu ruangan yang sempit atau terbatas dituntut dapat memenuhi kebutuhan sebagai tempat tinggal, tempat bekerja dan istirahat dari krew atau penumpang kapal selama dalam pelayaran yang terkadang tidak hanya membutuhkan waktu yang sebentar bahkan bisa berbulan bulan tinggal di dalam kapal. Oleh karena itu  sebuah interior suatu ruangan di kapal harus lah dapat memenuhi tuntutan tersebut diatas. 
Pada kapal-kapal dagang seperti general kargo, tanker, kontainer desain interior hampir sama, dapat dikatakan tidak ada perbedaan karena pada kapal tersebut yang paling utama adalah ruang muat yang semaksimal mungkin. Manusia yang tinggal hanyalah krew kapal yang mengoperasikan kapal dengan tujuan perdagangan yang tujuan akhir adalah keuntungan yang sebesar besarnya. Lain halnya pada kapal kapal penumpang terlebih pada kapal pesiar, desain interior sangatlah diutamakan, hal tersebut berkaitan dengan tujuan utamanya adalah kepuasan pelanggan / penumpang. Sehingga bentuk ruangan dan interior di dalamnya nya pun bisa menciptakan kenyamanan untuk para penumpangnya sehingga dapat kembali menggunakan kapal tersebut.

            Bentuk dasar ruangan yang di kapal secara umum mengikuti lengkungan/ bentuk dari kapal tersebut. Jumlah dan macam ruangan untuk kapal dagang / merchant ships biasanya disesuaikan kebutuhan seperti :

Pembagian ruangan – ruangan utama ( main – spaces ) yakni : 
-       Ruangan Muatan.
-       Ruangan mesin.
-       Ruangan akomodasi anak buah kapal dan penumpang.

1. Mess room ( ruang makan )
2. Sleeping room ( ruang tidur anak buah kapal )
3. Washing accommodation ( ruang untuk mencuci )
4. Hospital / clinic ( klinik kesehatan di kapal )
        5. Galley / provision store ( dapur dan tempat penyimpanan bahan makanan )

-       Ruangan Navigasi.
-       Ruangan lain lain :
Menentukan lokasi dari ruangan untuk Emergency Source of Electrical Power.
Menentukan lokasi dari CO2 room.
Menentukan ruangan – ruangan berikut : Lamp store, paint store, rope store, electrical store, boatswain store etc.

1. Tahap Pembangunan Interior Pada Kapal Flex 38

Dalam membangun interior dari pembuatan sebuah kapal flex 38, memiliki beberapa tahapan-tahapan yang prosesnya harus detail dan butuh kerjasama antar pihak bagian yang mengerjakan dari masing-masing subcont karena tujuan dari pembuatan kapal crew boat adalah untuk akomodasi penumpang menjadikan bagian interior adalah bagian yang terpenting dalam pembuatan kapal crew boat ini. Tahapan-tahapan tersebut adalah :

A. Perencanaan bentuk dasar ruangan di kapal termasuk dengan rencana umum (general arrangement).

Bentuk dasar ruangan yang dikapal secara umum mengikuti lengkungan / bentuk dari kapal tersebut. Jumlah dan macam ruangan untuk kapal dagang/ merchant ships biasanya disesuaikan kebutuhan seperti :
Pembagian ruangan – ruangan utama ( main – spaces ) yakni :
-       Ruangan Muatan.
-       Ruangan mesin.
-       Ruangan akomodasi anak buah kapal dan penumpang.
Mess room ( ruang makan )
Sleeping room ( ruang tidur anak buah kapal )
Washing accommodation ( ruang untuk mencuci )
Hospital / clinic ( klinik kesehatan di kapal )
Galley / provision store ( dapur dan tempat penyimpanan bahan makanan )
-       Ruang navigasi.
-       Ruangan lain lain :
Menentukan lokasi dari ruangan untuk Emergency Source of Electrical Power.
Menentukan lokasi dari CO2 room.
Menentukan ruangan – ruangan berikut : Lamp store, paint store, rope store, electrical store, boatswain store etc.
            Ruangan akomodasi anak buah kapal (ABK) merupakan ruangan dimana dalam ruangan tempat anak buah kapal istirahat, mengerjakan tugas dan aktivitas lainya. sehigga dalam menentukan letak, jumlah, jenis, kapasitas, dan ukuran  dari ruangan – ruangan berikut ( termasuk perlengkapan didalamnya ) berdasarkan tingkatan dan jumlah anak buah kapal dan penumpang dengan memperhatikan super structure dan deck – house yang tersedia.
-       Sleeping room (ruang tidur)
-       Mess room ( dining room ) / ruang makan / ruang santai.
-       Washing accommodation.(ruang cuci)
-       Hospital (klinik / rumah sakit di kapal)
-       Galley dan provision store. (dapur dan ruang penyimpan makanan)
-       Acces (jalan), ladder (tangga) dan stairs dalam hubungannya dengan means of escape (jalan menyelamatkan diri saat terjadi kecelakaan / kebakaran ) sesuai konvensi SOLAS 1960 /1974.

a. Ruangan Muatan : ( cargo spaces ).

Menentukan kebutuhan volume ruang muatan berdasarkan jenis, jumlah dan specific volume dari muatan yang akan diangkut.
Menentukan panjang ruang muatan dan letak ruangan muatan kapal.
Menentukan jumlah dan letak dari transverse watertight bulkhead berdasarkan perhitungan flodable length ( watertight subdivision ) dengan memperhitungkan rules klasifikasi mengenai hal ini, termasuk ketentuan mengenai collision bulkhead ( Forepeak bulkhead ) dan after peak bulkhead ( stuffing box bulkhead ).
Menentukan tinggi double bottom berdasarkan peraturan klasifikasi.
Menentukan frame – spacing berdasarkan peraturan klasifikasi.
Menentukan jumlah dan tinggi geladak dengan memperhatikan jenis dari muatan yang diangkut kapal.
Menentukan jumlah dan ukuran serta letak dari hatchways ( lubang palkah ).
Menentukan jumlah, kapasitas dan letak dari ventilator trunk.

b. Ruangan Mesin : ( Machinery spaces ).

Menentukan letak ruang mesin ( ditengah kapal, dibelakang kapal atau diantara tengah dan belakang kapal ) dengan mempertimbangkan jenis muatan, volume ruang muatan, ballast dan trim dan lain – lain.
Menentukan kebutuhan volume ruangan mesin dan panjang ruang mesin dengan memperhatikan ukuran mesin induk dan layout kamar mesin.
Menentukan ukuran mesin induk berdasarkan jenis, jumlah tenaga dan putaran mesin.
Menentukan secara garis besar lay – out dari kamar mesin ( letak mesin induk, mesin – mesin bantu dan lain – lain peralatan utama ).
Menentukan tinggi pondasi mesin dengan memperhatikan tinggi double bottom dan tinggi propeller shaft ( sumbu baling – baling ).
Menentukan letak dan ukuran dari engine opening engine room skylight dan funnel ( cerobong ), dengan memperhatikan juga means of scape.
Untuk lay – out dari kamar mesin perlu juga di perhatikan settling dan service tanks

c. Ruangan akomodasi anak buah kapal dan penumpang :

Menentukan letak, jumlah, jenis, kapasitas, dan ukuran dari ruangan – ruangan berikut di bawah ( termasuk perlengkapan didalamnya ) berdasarkan tingkatan dan jumlah anak buah kapal dan penumpang dengan memperhatikan super structure dan deck – house yang tersedia.
Sleeping room.
Mess room ( dining room ).
Washing accommodation.
Hospital.
Galley dan provision store.
Akses ( jalan ), ladder dan stairs dalam hubungannya dengan means of escape sesuai konvensi SOLAS 1960 / 1974.

d. Ruangan navigasi :

menentukan letak dan luas dari ruangan navigasi yang meliputi :
Wheel house.
Chart room.
Radio room.
Dalam hubungan dengan navigasi perlu diperhatikan letak, jenis dan jumlah dari lampu navigasi yang dibutuhkan.

e. Tangki – tangki :

Menentukan letak dan volume dari tangki – tangki ( yang merupakan bagian dari badan kapal ) berikut ini :
Tangki ballast.
Tangki air tawar, yang didasarkan atas jumlah anak buah kapal dan penumpang dan radius pelayaran.
Tangki bahan bakar, yang didasarkan atas fuel consumption dan besarnya tenaga mesin serta radius pelayaran kapal. Pada umumnya dibedakan antara jenis bahan bakar H.V.F ( Heavy Viscousity Fuel ) dan diesel oil.
Tangki minyak pelumas yang didasarkan atas kebutuhan minyak pelumas.
Tangki muatan cair ( deep – tanks untuk palm oil, latex, glyserine dan lain–lain ).

f. Ruangan – ruangan lain :

Steering gear compartment, menentukan letak dan ukuran ruangan jenis, kapasitas dan ukuran steering gear yang dipakai yang didasarkan atas momen torsi dari kemudi ( yang tergantung dari luas kemudi displacement dan kecepatan kapal ). Juga dengan memperhatikan persyaratan SOLAS convention 1969 / 1974. Untuk ruangan akomodasi perlu diperhatikan jenis, jumlah dan ukuran dari side scuttle ( jendela kapal = side lights ) dan ukuran dari pintu.
Menentukan lokasi dari ruangan untuk Emergency Source of Electrical Power.
Menentukan lokasi dari CO2 room.
Menentukan ruangan – ruangan berikut : Lamp store, paint store, rope store, electrical store, boatswain store etc.

B. Memasang perlindungan panas (insulation) pada ruangan interior kapal

Dalam sebuah kapal terdapat beberapa komponen yang merupakan sumber panas, seperti panas yang dikeluarkan akibat pembakaran motor penggerak utama, panas dari auxiliary engine, peralatan memasak dan permesinan bantu lainya. Panas yang dihasilkan dapat diteruskan kebagian lain melalui pancaran (radiasi) maupun rambatan (konduksi). Akibat perpindahan panas tersebut, maka ruang yang seharusnya tidak boleh terkena panas menjadi merasakan efek dari panas yang di timbulkan dari ruangan lain. Ruangan yang seharusnya nyaman tidak lagi, ruangan yang seharusnya bebas panas sama sekali karena pertimbangan keamanan menjadi tidak aman lagi dan banyak lagi akibat proses perambatan kalor tersebut.
Panas dapat merambat kebagian lain karena adanya media penyalur panas atau material yang memiliki konduktifitas termal yang bagus seperti logam yang banyak digunakan sebagai dinding dari kapal sendiri, udara disekitar sumber panas, yang meski memiliki angka konduktifitas yang kecil, tetap saja dapat menjadi media perambatan panas dengan cara radiasi.
Setelah diketahui sumber penyebab panas dan proses terjadinya rambatan panas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa perambatan panas dapat dicegah dengan cara memberikan bahan pembatas / isolator agar tidak terjadi rambatan, Hal ini dapat dilakukan dengan memakai bahan penyekat yang memiliki konduktifitas termal yang kecil.
Untuk mencegah radiasi dari komponen yang memancarkan panas, seperti pada saluran gas buang dari motor bakar maka perlu diberikan isolator panas seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Pemasangan dengan cara lapisan penahan panas rock woll dililitkan menyelubungi saluran hingga tertutup rapat, langkah berikutnya memberikan tutup dengan lembaran kawat anyaman / wire mesh melingkar menutupi lapisan lembaran pertama, selanjutnya lapisan paling luar di berikan lembaran bahan tahan api biasanya terbuat dari alumunium foil. 
Pada kapal crew boat flex 38 yang di produksi PT. Kim Seah Shipyard Indonesia pemasangan interior tersebut meliputi pemasangan insulation, getaran, panas atau di sebut juga peredam pada deck house. Perlindungan panas yang di pasang pada kapal flex 38 ini bernama HI WOOL SLAB dengan ukuran 1m ×  0.5 M × 50 MM thick, peredam ini di lapisi alumunium foil pada setiap sisinya. Hi Wool Slab di pakai untuk menjaga kondisi suhu di dalam ruangan kapal agar tidak cepat terjadi perubahan suhu di dalam ruangan ketika cuaca ekstrim.

C. Instalasi pemasangan perlengkapan kapal

Pemasangan interior kapal meliputi dinding-dinding interior pada kapal, pintu-pintu, pemasangan pemasangan peralatan navigasi, kelengkapan antar ruangan di kapal termasuk ruang kemudi dll.

1. Instalasi Sistem Kelistrikan dan Navigasi
Jaringan listrik dan panel-panelnya mulai dipasang setelah peluncuran kapal dan bertahap mengikuti pemasangan blok rumah kemudi (Wheel House : BN). Instalasi peralatan dan perlengkapan navigasi mengikuti panduan teknisi dari pabrik pembuat / supplier dan dilaksanakan setelah instalasi blok rumah kemudi dan sebagaian interiornya. Penetrasi kabel-kabel yang menembus sekat dibuat rapih dan kedap.

2. Instalasi Peralatan Perlengkapan Geladak
Instalasi-instalasi ini mencakup:
-          Jangkar, rantai, dan tali temali
-          Mesin Jangkar (Hydraulic System)
-          Peralatan tambat
-          Peralatan Kemudi (Hydraulic dan manual untuk emergency)
-          Perlengkapan Komunikasi dan Navigasi GMDSS
-          Perlengkapan Keselamatan

Sekoci Penolong (lifeboat), Rakit Penolong (liferaft), Gelang Pelampung (lifebuoy), Baju Penolong (lifejacket), Peralatan Pelempar Tali Otomatis, Dan Peralatan lain yang memenuhi persyaratan.
-          Perlengkapan Pemadam Kebakaran
-          Instalasi lampu-lampu penerangan di tiap deck dan ruangan
-          Instalasi lampu-lampu navigasi sesuai ketentuan COLREG.

D. Memasang perlindungan api pada ruangan interior kapal

Sistem pemadam kebakaran merupakan sistem yang sangat vital di dalam sebuah kapal, sistem ini berguna untuk menanggulangi bahaya api yang terjadi di kapal. Sistem pemadam kebakaran secara garis besar dapat dibagi menjadi dua di lihat dari peletakan sistem yang ada yaitu :
Sistem penanggulangan kebakaran pasif, sistem ini berupa aturan kelas mengenai penggunaan bahan pada daerah beresiko tinggi terjadi kebakaran dan juga pemasangan instalasi fix pada daerah beresiko kebakaran.

Sistem penanggulangan kebakaran aktif, sistem ini berupa penanggulangan kecelakaan yang bersifat lebih aktif misal, penempatan alat pemadam api ringan pada daerah yang beresiko kebakaran.

Pada dasarnya prinsip pemadaman adalah memutus ”segitiga api” yang terdiri dari panas, oksigen, dan bahan bakar. Sehingga dengan mengetahui hal ini maka dapat dilakukan pemilihan media pemadaman sesuai dengan resiko dan kelas dari kecelakaan tersebut.

Fungsi Sistem Pemadam Kebakaran
Fungsi dari sistem pemadam kebakaran adalah untuk penanganan jika terjadi kebakaran di kapal. Maka peralatan yang digunakan, berasal dari sistem pemadam kebakaran. Oleh karena itu, sistem pemadam kebakaran harus bisa menangani kebakaran di setiap bagian kapal.

E. Penyelesain Interior Kapal
Jadwal pelaksanaannya adalah setelah instalasi saluran kabel (cable tray), perpipaan dan saluran udara (ducting) selesai. Kriteria isolasi sekat-sekat ini mengikuti spesifikasi material dari spesifikasi teknis dan peraturan yang berlaku. Pekerjaan pada tahap ini adalah pemasangan interior tiap ruangan akomodasi, pelapisan dinding (lining & ceilling) dan pelapisan geladak (deck covering) menggunakan material kayu.

Setelah itu lalu memeriksa dan mengecek kunci kunci dan perlengkapan yang ada di kapal flex 38 untuk menyesuaikan jumlah yang ada di list atau daftar dengan kunci aslinya dan di cek penggunaannya agar tidak ada satupun kerusakan ketika kapal di serahkan kepada owner. Dan pemeriksaan perlengkapan kapal yaitu meliputi peta, bendera, mesin cuci, kulkas pendingin makanan, perlengkapan berlayar, perlengkapan keselamatan di kapal dan lain-lain.


BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
a. PT. Kim Seah Shipyard Indonesia adalah sebuah galangan yang bergerak di bidang pembuatan kapal high-speed alumunium vessels. PT. Kim Seah Shipyard Indonesia sangat dikenal dunia internasional sebagai produsen kapal Crewboat 
b. Bentuk dasar ruangan yang dikapal secara umum mengikuti lengkungan/ bentuk dari kapal tersebut
c. Tahapan dalam pembangunan interior kapal antara lain adalah :
- Perencanaan general arrangement (rencana umum)
- Memasang perlindungan panas (insulation) pada ruangan interior kapal
- Instalasi pemasangan perlengkapan kapal
- Memasang perlindungan api pada ruangan interior kapal
- Penyelesaian interior kapal
B. Saran
Dalam pembangunan sebuah kapal baru perlu di perhatikan dengan teliti dan detail oleh pihak kontraktor dalam proses pembangunannya terutama bagian interior kapal di karenakan pada tahap-tahap pembangunan sangat bergantung pada setiap tahapan proses tersebut agar tidak terjadinya pembongkaran kembali yang mengakibatkan kerugian material, tenaga dan juga waktu.

DAFTAR PUSTAKA

- http://alimsanre.wordpress.com/2010/08/02/37/
- http://navale-engineering.blogspot.com/2012/04/lambung-kapal-hull.html
- http://ninasandyinterior22.blogspot.com/
- http://sbsp.indonetwork.co.id/3202064/cabin-door-pintu-interior-kapal.htm
- http://www.penguin.com.sg/vessel-specs/
- http://tukangbata.blogspot.com/2013/01/pengertian-insulation-atau-insulasi-dan.html
- http://farichaputri1996.wordpress.com/category/teknologi-interior-kapal/

Selasa, 19 Juni 2012

Macam macam cacat las pada lambung kapal dan cara penanggulangan nya


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Menghasilkan produk berkualitas menjadi sebuah keharusan terutama dalam memenuhi kebutuhan dan jaminan kepada konsumen. Sehingga kemudian terlahirlah suatu standar penting yakni ISO 9001 (1987) yang merupakan model untuk jaminan kualitas dalam desain/pengembangan, produksi, instalasi dan pelayanan jasa yang merupakan salah satu seridari ISO 9000. 
ISO 9000 sendiri merupakan sekumpulan standar sistem kualitas universal yang dihasilkan oleh International Organization for Standardization di Jenewa Swiss yang muncul sebagai jawaban adanya Pembentukan Masyarakat Ekonomi Eropa yang menekankan kebutuhan akan standar yang sama.

Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang continue.
Definisi pengelasan menurut DIN (Deutsche Industrie Normen) adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dengan kata lain, las adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas. Dalam proses penyambungan ini ada kala-nya di sertai dengan tekanan dan material tambahan (filler material)

Teknik pengelasan secara sederhana telah diketemukan dalam rentang waktu antara 3000 –4000 SM. Sesudah energi listrik  dengan mudahnya di gunakan, teknologi pengelasan maju dengan sangat pesat, dan hingga saat ini telah dipergunakan lebih dari 40 jenis pengelasan.  Pada tahap-tahap permulaan dari pengembangan teknologi las, biasanya pengelasan hanya digunakan pada sambungan-sambungan dari reparasi yang kurang penting. Tapi setelah melalui pengalaman dan praktek yang banyak dan waktu yang lama, maka sekarang penggunaan proses-proses pengelasan dan penggunaan konstruksi-konsturksi las merupakan hal yang umum di semua negara di dunia.

Terwujudnya standar-standar teknik pengelasan akan membantu memperluas ruang lingkup pemakaian sambungan las dan memperbesar ukuran bangunan konstruksi yang dapat dilas. Dengan kemajuan yang dicapai sampai saat ini, teknologi las memegang peranan penting dalam masyarakat industri modern.

Adapun Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam konstruksi meliputi :

Perpipaan, konstruksi baja, bejana tekan, pipa pejal, lempengan logam dan sejenisnya Selain untuk pembuatan, proses pengelasan dapat juga dipergunakan untuk merepair/menyempurnakan, misalnya untuk mengisi lubang-lubang pada proses pengecoran. Adapun fungsi lainnya yaitu membuat lapisan las pada perkakas mem-pertebal bagian-bagian yang sudah aus, dan macam - macam reparasi lainnya.

TUJUAN PENULISAN

Tulisan yang saya buat ini  bertujuan untuk menguraikan  / menjelaskan terjadinya cacat las pada lambung kapal, macam-macam cacat las, dan cara penanggulangan cacat hasil pengelasan di lambung kapal serta prosedur pengelasan.

PERMASALAHAN

Pelat baja untuk lambung kapal merupakan komponen terbesar investasi kapal niaga yaitu sebesar 40% (Biro Klasifikasi Indonesia, 2006), dan memiliki resiko kerusakan tinggi akibat pengkaratan, sehingga membutuhkan biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak sedikit. Untuk mengurangi resiko pengkaratan saat pelat lambung kapal di produksi merupakan langkah awal atau preventif yang harus dilakukan agar terhindar dari pengkaratan dan kerusakan lebih lanjut. Pengkaratan ini dapat timbul selama proses produksi lambung kapal, yang mengalami berbagai macam perlakuan antara lain pemotongan, pembengkokan dan pengelasan.
Dan pada perindustrian dan konstruksi perkapalan sudah pasti tidak terlepas dari proses pengelasan. Dan ternyata tidak jarang kapal mengalami kerusakan pada konstruksi las-nya. Kerusakan ini berupa cacat pengelasan yakni patah sambungan las-nya, retak hasil las-nya yang secara kasat mata tak tampak, yang perlu perbaikan segera. Untuk itulah pada uraian selanjutnya akan dijelaskan bagaimana cara penaggulangan cacat hasil pengelasan tersebut jika terjadi pada konstruksi kapal sehingga tidak terjadi hal – hal yang tidak di inginkan ketika kapal sedang berada di tengah laut seperti tenggelam-nya kapal,  atau kandasnya sebuah kapal.

GAMBARAN UMUM FUNGSI PENGELASAN PADA LAMBUNG KAPAL

Pembuatan lambung kapal dengan konstruksi las, pada umumnya dilakukan dengan cara konstruksi blok, yaitu membagi badan kapal ke dalam blok. Masing-masing blok dirakit terlebih dahulu dan kemudian blok-blok itu disusun dan disambung satu sama lain di atas landasan pembangunan (galangan perakit). pengerjaan kapal baru dibagi dalam empat tahapan secara garis besar yaitu tahap Fabrikasi, tahap sub-Assembly, tahap Assembly, dan tahap Erection (penyambungan blok),dimana keempat tahapan ini tidak lepas dari kegiatan pengelasan.Selain itu, pembuatan lambung kapal dengan konstruksi las membutuhkan perencanaan yang sesuai dengan urutan pengelasan (seperti pemeriksaan ukuran alur, pemilihan bahan las, dll) dan perlakuan khusus seperti perakitan kotak konstruksi dasar ganda harus dimulai dari tengah dan menuju ke sisi guna mengurangi tegangan sisa. Pelaksanaan pengelasan harus sesuai dengan diameter elektroda dan posisinya, dan harus diperhatikan cara menggerakkan elektroda sehingga tidak menimbulkan cacat las seperti takik las, lubang halus dan penembusan yang tidak sempurna dimana hal-hal ini biasa terjadi pada proses pengerjaan pembuatan kapal di PT.Industri Kapal Indonesia sehingga terjadi pengerjaan ulang (rework) dan akibatnya akan menambah biaya (cost) pembangunan suatu kapal baru. 
Kualitas sambungan las sangat tergantung pada ketrampilan juru las yang melakukan, jadi Biro Klasifikasi sekarang ini biasanya meminta persyaratan atau kualifikasi tertentu untuk juru las yang akan melaksanakan pengerjaan las untuk kapal. Oleh karena itu mengetahui faktor-faktor yang berperan dalam pengelasan untuk penciptaan kualitas produk menjadi penting
Dari berbagai jenis pengelasan yang telah dikenal, pengelasan pada kapal mempunyai  suatu persyaratan dari Badan Klasifikasi yang mengawasi dan memberikan kelayakan tentang kekuatan konstruksi kapal. Hal ini karena kapal selain berada pada media cair yang selalu mendapat gaya – gaya hidrostatik gelombang air dari luar badan kapal juga mendapatkan beban berat sehingga kapal sebagai sarana pengangkutan perlu mendapatkan perhatian khusus tentang kekuatan dan faktor keselamatannya.

Untuk memenuhi persyaratan yang dituntut dari pemilik kapal dan badan klasifikasi maka peran juru las sangatlah besar, dan untuk itu teknik – teknik pengelasan pada kapal harus diikuti agar mendapatkan mutu las yang baik dan dapat diterima oleh pemilik kapal maupun badan klasifikasi.  Seperti diketahui bahwa peran dan volume pekerjaan pengelasan pada kapal sangatlah besar, dimana ketrampilan seorang juru las dituntut mempunyai  kompetensi secara mandiri (individual skill).

Dengan demikian seorang juru las perlu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang matang agar proses pengelasan yang dilakukan mempunyai mutu dan kecepatan yang tinggi, sehingga diharapkan dapat diterima oleh Badan Klasifikasi dan pemilik kapal. Teknologi Las Kapal merupakan metode penyambungan baja pada kapal dengan mengikuti standar yang berlaku  untuk pembangunan kapal. 

Pada umumnya pengelasan pada badan kapal yang banyak digunakan adalah pengelasan dengan proses las busur listrik (SMAW), las busur rendam ( SAW ) dan proses las busur listrik dengan pelindung gas ( FCAW / GMAW ) dari material baja karbon  dan baja kekuatan tarik tinggi.  Sedangkan proses las elektrode tak terumpan (GTAW ) banyak digunakan untuk mengelas bagian – bagian kapal seperti perpipaan, saluran udara dan bagian – bagian kecil lainnya yang menggunakan plat tipis. 

Dari beberapa jenis pengelasan yang digunakan untuk mengelas bangunan kapal pada umumnya mempunyai prosedur pengelasan sendiri-sendiri dimana kelihatannya sangat sederhana, namun bila diteliti secara cermat maka didalamnya banyak masalah yang harus diatasi dimana pemecahanya memerlukan banyak disiplin ilmu pengetahuan.  Oleh karena itu pengetahuan harus menyertai praktek, secara lebih detail bahwa perancangan konstruksi bangunan kapal dengan sambungan las harus direncanakan pula tentang teknik pengelasan, bahan las dan jenis las yang digunakan serta pemeriksaannya.

Plat baja
Tipikal produk baja adalah plat baja. Plat baja diklasifikasikan berdasarkan pemakaiannya oleh Standar Industri Jepang (JIS). Juga diklasifikasikan sesuai dengan ketebalannya menjadi plat tebal (25 mm atau lebih), plat (3 mm sampai dengan kurang dari 25 mm) dan plat tipis (kurang dari 3 mm).

BAB II
ISI

PROSEDUR PENGELASAN, MASALAH-MASALAH PADA SAMBUNGAN LAS DAN CACAT LAS PADA LAMBUNG KAPAL SERTA CARA PENANGGULANGANNYA

A. PROSEDUR PENGELASAN

Prosedur Pengelasan (WPS) adalah suatu perencanaan untuk pelaksanaan pengelasan yang meliputi cara pembuatan konstruksi pengelasan yang sesuai dengan rencana dan spesifikasinya dengan menentukan semua hal yang diperlukan dalam pelaksanaan tersebut. Karena itu mereka yang menentukan prosedure pengelasan harus mempunyai pengetahuan dalam hal pengetahuan bahan dan teknologi pengelasan itu sendiri serta dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk effesiensi dari suatu aktivitas produksi. Di dalam pembuatan prosedure pengelasan (WPS) code atau Standard yang lazim dipakai di negara kita adalah American Standard ( ASME, AWS dan API ). Selain American Standard design dan fabrikasi yang sering kita jumpai adalah British Standard ( BS ), Germany Standard ( DIN ), Japanese Standard ( JIS ) dan ISO. Akan tetapi hingga saat ini standard yang paling sering dijadikan acuan untuk pembuatan prosedure pengelasan ASME Code Sect IX (Boiler, Pressure Vessel, Heat Exchanger, Storage Tank), API Std 1104 ( Pipeline ) dan AWS (Structure & Plat Form). Dalam prosedur Pengelasan (WPS) harus ditampilkan variabel-variabel yang mempengaruhi kualitas hasil pengelasan. Variabel-variabel itu dapat digolongkan menjadi 3 (Tiga) kelompok :
1. Essential Variable.
Suatu variabel yang bila diubah akan berpengaruh pada mechanical properties hasil pengelasan.
2. Supplement Essential Variable.
Suatu variabel yang bila diubah akan berpengaruh pada Nilai Impact hasil pengelasan.
3. Non Essential Variable.
Suatu variabel bila diubah tidak akan mempengaruhi nilai impact dan mechanical properties hasil pengelasan.

Langkah – Langkah Pembuatan Prosedur Pengelasan ( WPS ) :
a. Menyusun draft / prelimenary prosedure pengelasan (WPS).
b. Melakukan pengelasan pada test coupon sesuai dengan parameter-parameter
    pengelasan yang telah tertulis dalam draft prosedure tersebut (WPS).
c. Membuat test specimen dan melakukan uji specimen dengan Destructive Test.
d. Mengevaluasi hasil Destructive Test dengan Standard / code yang digunakan.
e. Mencatat dan mensertifikasi hasil uji tersebut pada lembar Prosedur Kualifikasi
Record (PQR).

Faktor Utama yang diperhitungkan dalam Penyusunan Prosedur Pengelasan (WPS) :
a. Jenis material induknya (Base Metal)
b. Jenis proses welding yang digunakan
c. Jenis kawat las yang dipakai
d. Kondisi pemakaian alat yang akan di las

Disamping 4 ( empat ) persyaratan diatas ada persyaratan lain seperti :
a. Compability antara kawat las dan material induk (Base Metal).
b. Sifat-sifat metallurgy dari material tersebut khususnya weldabilitynya.
c. Proses pemanasan (Preheat, Post Heat, Interpass Temperatura Dan PWHT).
d. Design sambungan dan beban.
e. Mechanical properties yang diinginkan.
f. Lingkungan kerja (enviroment work) pada equipment tersebut.
g. Kemampuan welder.
h. Safety.

Langkah – langkah mengkualifikasi prosedur pengelasan (WPS)
Langkah – langkah dalam melakukan kualifiaksi prosedure pengelasan yaitu :
a. Membuat Test Coupon.
b. Melakukan pengelasan pada test coupon dengan parameter-parameter sesuai yang tercantum dalam draft Prosedure pengelasan (WPS). Hal-hal yang dianjurkan adalah mencatat semua variabel essential, Non essential maupun Supplementary essential.
c. Memotong test coupon untuk dijadikan specimen test DT (Destructive Test).
d. Jika hasil test DT dinyatakan accepted harus di record pada Prosedure Kualifikasi Pengelasan             (PQR).
e. Membandingkan hasil PQR dengan parameter yang ada di WPS untuk menjamin bahwa range dan parameter yang tercantum pada WPS ter-cover pada PQR.

B. CACAT-CACAT PADA PENGELASAN.

Semua jenis cacat las pada umumnya disebabkan kurangnya pengetahuan dari welder / juru las terhadap teknik-teknik pengelasan termasuk pemilihan parameter las. Oleh karena itu dari mulai pengelasan sampai akhir pengelasan harus selalu diadakan pemeriksaan dengan cara-cara yang telah ditentukan, misalnya secara visual, dye penetrant / dye check, radiography, ultrasonic atau dengan cara-cara lain.
Cacat las/defect weld adalah suatu keadaan yang mengakibatkan turunnya kualitas dari hasil lasan. Kualitas hasil las-an yang dimaksud adalah berupa turunnya kekuatan dibandingkan kekuatan bahan dasar base metal atau tidak baiknya performa/tampilan dari suatu hasil las. atau dapat juga berupa terlalu tingginya kekuatan hasil las-an sehingga tidak sesuai dengan tuntutan kekuatan suatu konstruksi.
Terjadinya cacat las ini akan mengakibatkan banyak hal yang tidak diinginkan dan mengarah pada turunnya tingkat keselamatan kerja, baik keselamatan alat, pekerja/user/operator, lingkungan dan perusahaan/industri/instansi. Di samping itu juga secara ekonomi akan mengakibatkan melonjaknya biaya produksi dan pada gilirannya industri/perusahaan/instansi tersebut mengalami kerugian atau penurunan laba.
Sedangkan definisi pengelasan sendiri adalah proses penyambungan antara dua logam /baja atau lebih dengan menggunakan energi panas sebagai media-nya. Karena proses ini maka logam disekitar las-an mengalami siklus termal cepat yang menyebabkan terjadinya deformasi. Hal ini sangat erat hubungan-nya dengan terjadinya cacat las yang mempunyai pengaruh fatal terhadap keamanan kontruksi material yang di-las terutama pada bagian Lambung Kapal.

Cacat las pada umumnya dapat dikategorikan seperti :
1.      Rounded indication atau cacat bulat
2.      Linear indication atau cacat memanjang

Rounded indication atau cacat bulat adalah merupakan cacat las yang diperbolehkan apabila dimensi / ukuran panjang kumpulan cacat masih berada pada cacat maksimum sesuai kriteria penerimaan yang dipakai, misal : liang-liang renik (porosity)
Linear indication atau cacat memanjang adalah cacat yang tidak diperbolehkan sama sekali (retak, penembusan kurang, peleburan kurang).

Ada beberapa cacat di dalam pengelasan yaitu :
1. Retak (Cracs),
2. Voids,
3. Inklusi,
4. Kurangnya fusi atau penetrasi (lack of fusion or penetration),
5. Bentuk yang tak sempurna (imperfect shape),
6. Penembusan kurang baik.
7. Keropos

Retak
Jenis cacat ini dapat terjadi baik pada logam las (weld metal), daerah pengaruh panas (HAZ) atau pada daerah logam dasar (parent metal).  Cacat las yang sangat sering terjadi adalah retak las. Retak las di bagi menjadi dua kategori yaitu retak panas dan retak dingin.
-
Retak panas adalah retak yang terjadi pada suhu diatas 500oC. Retak panas dibagi menjadi dua kelas yaitu :
1.      Retak karena pembebasan tegangan pada daerah pengaruh panas yang terjadi pada suhu 500oC - 700o
2.      Retak yang terjadi pada suhu diatas 900oC yang terjadi pada peristiwa pembekuan logam las. Retak panas sering teriadi pada logam las karena pembekuan, biasanya berbentuk kawah dan retak memanjang. Retak  panas ini terjadi karena pembebasan tegangan pada daerah kaki didalam daerah pengaruh panas.

Retak ini biasanya terjadi pada waktu logam mendingin setelah pembekuan dan terjadi karena adanya tegangan yang timbul, yang disebabkan oleh penyusutan dan sifat baja yang ketangguhannya turun pada suhu dibawah suhu pembekuan.

Ke-retak-kan las yang lain adalah retak sepanjang rigi-rigi las-an retak disamping las dan retak memanjang diluar rigi-rigi las-an. Akan tetapi penyebab umum pada semua jenis keretakan las ini adalah :
1. Benda kerja yang di-las terlalu kaku.
2. Pilihan jenis elektroda yang tidak tepat atau salah.
3. Benda kerja terbuat dari baja ber-karbon tinggi.
4. Penyebaran panas pada bagian-bagian yang di las tidak seimbang.
5. Pendinginan setelah pengelasan yang terlalu cepat.
-
Retak dingin adalah retak yang terjadi pada daerah las pada suhu kurang lebih 300oC. Retak dingin didaerah HAZ  biasanya terjadi antara beberapa menit sampai 48 jam sesudah pengelasan. Retak dingin ini disebabkan oleh :.
1. Struktur daerah pangaruh Panas.
2. Tegangan.
3. Hidrogen difusi didaerah las.

Voids (porositas)
Porositas merupakan cacat las berupa lubang-lubang halus atau pori-pori yang biasanya terbentuk di dalam logam las akibat terperangkapnya gas yang terjadi ketika proses pengelasan. Disamping itu, porositas dapat pula terbentuk akibat kekurangan logam cair karena penyusutan ketika logam membeku. Porositas seperti itu disebut: shrinkage porosity.
  
Penyebab porositas antara lain :
-Nyala busur terlalu panjang
-Arus terlalu rendah
-kecepatan las terlalu tinggi
-kandungan belerang terlalu tinggi

Inklusi
Cacat ini disebabkan oleh pengotor (inklusi) baik berupa produk karena reaksi gas atau berupa unsur-unsur dari luar, seperti: terak, oksida, logam wolfram atau lainnya. Cacat ini biasanya terjadi pada daerah bagian logam las (weld metal).

Kurangnya Fusi atau Penetrasi
1. Kurangnya Fusi
Cacat ini merupakan cacat akibat terjadinya ”discontinuity” yaitu ada bagian yang tidak menyatu antara logam induk dengan logam pengisi. Disamping itu cacat jenis ini dapat pula terjadi pada pengelasan berlapis (multipass welding) yaitu terjadi antara lapisan las yang satu dan lapisan las yang lainnya.

2. Kurangnya Penetrasi
Cacat jenis ini terjadi bila logam las tidak menembus mencapai sampai ke dasar dari sambungan.

Bentuk Yang Tidak Sempurna
Jenis cacat ini memberikan geometri sambungan las yang tidak baik (tidak sempurna) seperti: undercut, underfill, overlap, excessive reinforcement dan lain-lain. Morfologi geometri dari cacat ini biasanya bervariasi. Pengerukan ini terjadi pada benda kerja atau konstruksi yang termakan oleh las sehingga benda kerja tadi berkurang kekuatan konstruksi meskipun sebelumnya telah dilakukan pengelasan.

Sebab-sebab pengerukan las antara lain :

1.      Ayunan elektroda selama pengelasan tidak teratur.
2.      Kecepatan pengelasaan yang terlalu tinggi pula.
3.      Busur nyala yang terlalu panjang.
4.      Posisi elektroda selama pengelasan tidak tepat.
5.      Ukuran elektroda yang salah.
6.      Arus yang terlalu tinggi
7.      sudut dari brander dan bahan tambah yang tidak benar.

Penembusan Kurang Baik
Selain retak, cacat las yang juga sering terjadi, adalah penembusan las yang kurang dan jelek. Jika penembusan pengelasan kurang maka akibat yang timbul pada konstruksi adalah kekuatan konstruksi yang kurang kokoh karena penembusan yang kurang. Karena kurang penembusan inilah maka penyambungan tidak sempurna.

Penyebab dari penembusan yang kurang ini antara lain :

 - Kecepatan pengelasan yang terlalu tinggi.
 - Arus terlalu rendah.
 - Diameter elektroda yang terlalu besar atau terlalu kecil.
 - Benda kerja terlalu kotor.
 - Persiapan kampuh atau sudut kampuh tidak baik.
 - Busur las yang terlalu panjang.

Keropos
Keropos merupakan cacat las yang juga sering terjadi dalam pengelasan. Keropos ini bila didiamkan, lama kelamaan akan menebar yang di ikuti dengan perkaratan atau korosi pada konstruksi sehingga kontruksi menjadi rapuh karena korosi tadi.
Cacat ini memang kelihatannya sepele akan tetapi dampak yang ditimbulkan oleh cacat ini cukup membahayakan juga. Penyebab keropos ini yakni :

 - Busur pendek.
 - Kecepatan mengelas yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
 - kurang waktu pengisian.
 - Terdapat kotoran-kotoran pada benda kerja.
 -  Kesalahan memilih jenis elektroda.

C. Cara Penanggulangan Cacat Las

Dalam pembuatan bangunan kapal baru jumlah pekerjaan las kira-kira sepertiga dari seluruh jumlah pekerjaan. Ada kapal yang dibangun dengan sistem blok dan ini berarti banyak sekali konstruksi yang menggunakan pengelasan. Jadi cacat-cacat las yang ada harus ditekan sekecil mungkin atau bahkan harus dihindari sebisa mungkin.
Untuk mengatasi macam-macam cacat las yang telah terjadi supaya hasil pekerjaan las dapat memuaskan banyak pihak, maka perlu dilaksanakan cara-cara penanggulangannya, yaitu sebagai berikut :

1. Penanggulangan Retak Las
Dalam menghindari terjadinya retakan las pada daerah panas, atau usaha penaggulanganya supaya tidak terjadi retak pada las antara lain :
-          Mendinginkan perlahan-lahan setelah dilas.
-          Menggunakan elektroda yang betul, dalam hal ini sedapat mungkin menggunakan elektroda dengan fluk yang mempunyai kadar hydrogen rendah.
-          Sebelum mengelas, pada daerah sekitar kampuh harus dibersihkan dari air, karat, debu, minyak dan zat organik yang dapat menjadi sunrber hidrogen.
-          Mengadakan pemanasan pendahuluan sebelum memulai pengelasan, dengan cara ini retak las dapat terhindarkan
-          Membebaskan kampuh dari kekakuan.

2. Penanggulangan Penembusan Las Yang Kurang Baik
Cara untuk mengatasi cacat las penembusan yang kurang baik dapat dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut :
-          Membersihkan benda kerja dari terak dan kotoran yang ada.
-          Penyetelan arus pengelasan yang tepat.
-          Mengatur kecepatan las, sehingga kedua sisi benda kerja mencair dengan baik.
-          Pengelasan diperlambat dan stabil agar panas yang didapat lebih merata.
-          Memilih diameter elektroda yang sesuai dengan ukuran coakan.
-          Mempertahankan panjang busur nyala yang tepat.
-          Membetulkan sudut kampuh.

3.  Penanggulangan Pengerukan las (Under Cut)
Cara untuk mengatasi cacat las pengerukan/under cut dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
-          Mengurangi kecepatan mengelas.
-          Menyetel arus yang tepat.
-          Mempertahankan panjang busur nyala yang tepat.
-          Menggunakan ukuran elektroda yang benar.
-          Menyetel posisi elektroda, sehingga gaya busur nyala akan menahan cairan pengelasan.
-          Mengupayakan ayunan elektroda dengan teratur.

4.  Penanggulangan Cacat Las Karena Keropos.
Cara untuk mengatasi cacat las keropos dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
-          Memberi waktu pengisian yang cukup untuk melepaskan gas.
-          Mempertahankan jarak busur yang baik.
-          Mengurangi kecepatan pengelasan atau kecepatan dipertinggi.
-          Membersihkan benda kerja.
-          Menggunakan elektroda yang tepat.

5.   Penanggulangan Pengerutan Benda Kerja
Pada setiap proses pengelasan akan terjadi yang namanya perubahan bentuk terhadap benda kerja. Perubahan bentuk ini akan mengurangi ketelitian ukuran dan penampakan luar serta dapat juga menurunkan kekuatan. Hal-hal untuk mengurangi terjadinya pengerutan benda kerja atau perubahan bentuk antara lain :

6.  Pengurangan masuknya panas dan logam panas.
Dengan mengurangi masuknya panas lasan yang seperlunya saja maka tidak akan terjadi suhu yang terlalu tinggi. Sehingga perubahan bentuk dapat dikurangi menjadi sekeci-kecilnya. Bila logam las dikurangi, maka jumlah logam pada waktu mendingin tidak terlalu banyak dan dengan sendirinya perubahan bentuk juga dapat dikurangi. Pengurangan bahan las dapat dilakukan dengan mengurangi panjang las, memilih bentuk kampuh yang sesuai, memotongplat yang akan dilas dan merakitnya dengan teliti.

7.  Menentukan urutan pengeiasan yang tepat.
Perubahan bentuk pada umumnya dapat dihindari dengan ururan pengelasan yang sesuai. Dalam menghindari perubahan bentuk dapat dilakukan dengan mengelas dengan meloncatloncat. Bila perubahan bentuk ini terjadi, untuk meluruskannya kembali diperlukan waktu dan kerja yang cukup banyak. Adapun cara untuk mengatasi perubahan bentuk tadi adalah sebagai berikut :

  • Pengelasan sedikit mungkin. Pengelasan yang berlebihan akan menimbulkan peng-kerutan yang bertambah besar
  • Dudukan benda yang hendak dilas sedikit dimiringkan keluar, sehingga rigi-rigi las akan menariknya kepada kedudukan yang didinginkan.
  • Melakukan pengelasan yang bergantian pada setiap sisi dan membuat urutan rigi-rigi yang menimbulkan gaya-gaya penyusutan yang saling meniadakan.
Bila pada jenis sambungan I dilas mengalami pengkerutan, rigi-rigi dapat membuat kampuh menjadi berimpit sesamanya.
Maka kerusakan ini dapat diatasi dengan cara antara lain :

  • Membuat las pengikat atau las atau las titik/tack weld.
Las pengikat ini diletakkan di tempat-tempat yang kiranya benda kerja akan mengerut bila nanti dilas. Sehingga dengan adanya las pengikat ini pengerutan benda kerja tidak terjadi.

  • Mebuat celah yang melebar.
Disini pelebaran celah tidak boleh asal melebar, akan tetapi masih dalam jangkauan kemampuan las. Ini dimaksudkan agar bila nanti setelahpengelasan mengalami pengerutan celah yang mengalami pelebaran tadi.

  • Memasang pasak untuk mempertahankan lebar celah.
Pasak ini berguna untuk menjaga lebar celah pada benda kerja yang juga disebut dengan plat pengikat. Jadi bila setelah pengelasan kondisi kerja tetap pada posisi semula karena telah diikat oleh pasak tadi.


Untuk mengurangi perubahan bentuk dari pengaruh urutan pengelasan dilakukan dengan jalan:

  1. Pengelasan dilakukan dari titik yang terikat ketitik yang terbebas.
  2. Majunya pengelasan dibuat simetri tehadap sumbu netral.
  3. Menggunakan pengelasan susulan mundur atau kebelakang, untuk menghindari perubahan bentuk pada daerah memanjang.
Untuk mengurangi perubahan bentuk dari segi persiapan kampuh dapat dilakukan dengan cara:

  • Membuat sudut kampuh sekecil mungkin.
  • Membuat celah kampuh sekecil mungkin.
  • Membuat kampuh ganda bila tebal plat lebih dari 16 mm.

Cara pengelasan konstruksi lambung kapal biasanya dilakukan langkah-langkah antara lain:

  1. Pemeriksaan ukuran alur
  2. Pemilihan bahan las yang tepat
  3. Penentuan ukuran pengelasan
  4. Pembersihan alur dari debu, karat, dan minyak.
Perlu diketahui bahwa perakitan konstruksi dimulai dari tengah menuju kesisi. Sedangkan untuk pengelasan antar plat kulit dan rangka geladak atas urutan-nya adalah las tumpul dan kemudian barulah las tumpang. Pengelasan dalam reparasi/perbaikan kapal harus diperhatikan hal-hal berikut:

  1. Menentukan se-teliti mungkin besarnya bagian yang rusak.
  2. Memperhatikan lingkungan kerja, misalnya dalam memindahkan tabung gas  yang mudah terbakar.
  3. Memasang pengaman bila pengelasan dilakukan ditempat yang tinggi.
  4. Mempersiapkan tenaga listrik yang diperlukan.
  5. Dalam penggantian plat harus disiapkan lubang batas dan harus menentukan urutan pengelasan.